"Perubahan itu terbuka dan bisa dijalankan. Memang RAPBN itu akan jadi APBN defintif pada akhir September tahun ini. Kalau akan ada perubahan yang dibutuhkan melalui APBNP 2015 sebagaimana kami lakukan pada 2005, kami ubah RAPBN yang disusun pemeirntahan Ibu Megawati, pemerintahan sebelumnya," terang Presiden SBY dalam program wawancara khusus "Isu Terkini" yang disebarluaskan lewat Youtube, kemarin.
Dia tegaskan, tidak benar pendapat yang mengatakan tidak ada ruang perubahan. Kalau pemerintahan Jokowi-JK ingin kurangi defisit, maka peluang itu terbuka, dan kalau mau ubah asumsi bersama DPR itu juga terbuka.
"Dan saya yakin Pak Jokowi memberikan janj-janji saat Beliau berkampanye, itu bisa diwadahi dalam RAPBN 2015," terangnya.
Dalam wawancara khusus itu pula, Presiden sebelumnya menyatakan ada tekanan atau desakan luar biasa kepada pemerintahan yang ia pimpin sekarang ini agar segera menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM).
"Tekanan ini boleh dikatakan luar biasa, boleh dikatakan dari kalangan parpol tertentu dan media konvensional tertentu dan juga sejumlah pihak," aku SBY
.
SBY mencoba memahami mengapa ia terus dipaksa untuk menaikkan BBM. Yang ia tangkap, hal itu didesak untuk menekan defisit. Namun alasan itu baginya kurang tepat, karena pemerintahan yang ia pimpin sudah melakukan banyak langkah untuk menekan defisit.
"Tahun lalu BBM dinaikkan, tahun ini kami naikkan harga listrik, menaikkan bahan bakar gas, pemotongan anggaran, itu semua untuk kurangi defisit," kata SBY.
[ald]
BERITA TERKAIT: