Dalam pidato pembukaan, Presiden mengajak peserta forum untuk membangun kembali kepercayaan di antara negara-negara dunia yang cenderung merosot.
Dikutip dari situs resmi sekretariat kabinet, Presiden SBY memberi contoh bagaimana Indonesia dan Timor Leste telah berhasil membangun kepercayaan dari awalnya dua negara yang bermusuhan.
Bahkan, SBY mengklaim hubungan bilateral kedua negara itu yang terbaik di Asia untuk masa sekarang.
Selain menyoroti adanya krisis kepercayaan, Presiden SBY prihatin melihat kecenderungan merosotnya keharmonisan. Presiden menyebut beberapa contoh, misalnya hubungan antara negara-negara besar menurun pada tingkat yang mengkhawatirkan; di beberapa bagian dunia, termasuk di Asia, persaingan meningkat; di Eropa, krisis Ukraina telah mengubah persamaan geopolitik; di Timur Tengah juga terjadi pergeseran geopolitik yang pesat disertai kekacauan
SBY juga menyebut fenomena kebangkitan Dunia Arab yang malah melahirkan banyak konflik, bukan transisi demokrasi yang damai dan stabil; kemerdekaan Palestina masih tetap jauh dari harapan, Islam fobia berkembang di Barat dan radikalisme yang terus tumbuh, termasuk fenomena lahirnya ISIS.
Semua itu, kata Presiden SBY, menjadi tantangan bagi UNAOC untuk memainkan perannya.
UNAOC Ke-6 dihadiri antara lain Sekjen PBB Ban Ki-moon, PM Timor Leste Xanana Gusmao, Menlu Spanyol Jose Manuel Garcia-Margallo, Wamenlu Turki Naci Koru, Dirjen UNESCO Irina Bokova, Presiden UNAOC Ke-6 John William , dan Perwakilan Tinggi UNAOC Nassir Abdulaziz Al-Naseer.
[ald]
BERITA TERKAIT: