Padahal, kostum tersebut sudah pernah digunakan Ahmad Dhani dalam video Immortal Love Song. Namun, baru kali ini dipermasalahkan.
"Terlalu prematur dan tidak fair menghubungkan pakaian yang dipakai Ahmad Dhani dengan Nazi. Ini sudah menghakimi," ujar psikolog politik dari Universitas Indonesia (UI) Dewi Haroen saat dihubungi di Jakarta, Kamis malam (26/6).
Menurutnya, penilaian pada seseorang memang tak lepas dari orang lain yang melihat. Selain itu juga pada konteks dan momentum yang tengah berlangsung.
"Semua memang bisa berpendapat, tetapi orang yang menilai tersebut juga harus dilihat juga posisinya seperti apa," kata Dewi.
Masalahnya, lanjut Dewi, jika orang yang menilai adalah pendukung pasangan capres Joko Widodo-Jusuf Kalla maka bisa dikatakan ikut-ikutan menghakimi Ahmad Dhani. Sang musisi sendiri sebelumnya telah menyatakan dukungannya kepada Prabowo-Hatta.
Dewi mengingatkan, penggunaan kostum tertentu tidak mesti dihubungkan dengan pilihan ideologi. Apalagi, banyak komunitas yang menyukai replika seragam militer atau seragam lainnya.
"Secara psikologis, individu yang menyukai pakaian khas seperti baju tentara, klub sepak bola, otomotif karena kostum itu merepresentasikan sesuatu. Bisa semangat, kebersamaan atau ekspresi seni. Jadi, harus dilihat konteksnya," pungkas konsultan personal branding ini.
[rus]
BERITA TERKAIT: