"Udah ditertibkan itu, sudah tertib sejak awal, sudah enggak ada," ujar pria yang akrab disapa Haji Lulung ini saat dihubungi wartawan di Jakarta, Selasa (13/8).
Menurut Lulung, relokasi kegiatan prostitusi di area tersebut telah dilakukan sejak awal Ramadhan kemarin, yakni tanggal 11 Juli 2013. Dengan demikian, Blok G Tanah Abang layak untuk digunakan.
Namun, garansi yang diklaim oleh Lulung disangsikan kalangan PKL di Pasar Tanah Abang. Belajar dari pengalaman, sejak didirikan tahun 2004 lalu, gedung Blok G hanya bertahan dua tahun sebagai area berdagang. Sisanya beralih jadi area prostitusi dan transaksi narkoba. Alasan ini pula yang membuat PKL enggan pindah ke Blok G.
"Di atas itu tempat prostitusi dan narkoba. Kami merasa nggak nyaman menempati lapak itu. Apalagi banyak wanita-wanita tidak jelas yang sering naik ke atas. Kami malah dipindahkan ke lokasi kejahatan. Maunya gubernur Jokowi apa sebenarnya," keluh seorang PKL yang tidak mau disebutkan namanya saat berbincang dengan
Rakyat Merdeka Online, beberapa saat lalu (Selasa, 13/8).
Bila memang harus dipindahkan ke Blok G, ia berharap prostitusi dan narkoba ini benar-benar jadi prioritas utama pemerintah untuk diberantas. Karena PKL tidak mau menempati lapak yang pada malam hari berubah jadi lokalisasi dan transaksi barang haram.
[wid]