Hal unik dari ketoprak ini tidak dimainkan oleh mahasiswa, melainkan oleh para pencetak komunikator handal. Yaitu para dosen yang mengajar di lembaga yang tepat pada 1 Juli 2013 ini merayakan ulang tahunnya yang ke-21.
"Dosen itu panutan bagi para mahasiswa. Pesan moral kisah ini adalah tentang kesetiaan, ketekunan dan pertemanan antara sesama. Selain itu juga mengajarkan kita untuk cinta terhadap budaya kita. Hal itu harus dimiliki oleh dosen terlebih dahulu baru kemudian dapat mudah disampaikan kepada para mahasiswa," ujar Director and Founder LSPR, Prita Kemal Gani, di Jakarta tadi malam (Senin, 1/7).
Selain itu, Prita juga mengaku sangat terkejut dengan suguhan teatrikal yang dimainkan oleh para dosen LSPR karena dinilai sukses memainkan figur dari masing-masing karakter secara komedi.
Selain dimainkan oleh para dosen, teater komedi ini juga mengikutsertakan pengamat budaya Indonesia, Arswendo Atmowiloto, sebagai dalang. Sesekali Arswendo menyampaikan pesan-pesan berbau politis ketika sedang berada di atas panggung.
"Hallo dari jokowi? Eh bukan dari Cikeas ya? Oh saya
ndak bisa datang karena sedang ada acara," canda Arswendo dalam perannya.
Dibutuhkan waktu dua bulan oleh para dosen ini untuk berlatih. Uniknya, para pemain berasal dari berbagai latar belakang suku dan budaya. Misalnya, untuk peran Dewi Sinta panitia memilih Yunita Permatasari Marpaung yang berasal dari suku Batak.
"Berat ya. Saya orang Batak harus meranin seorang Dewi dari Jawa. Aduh kayanya berat banget. Tapi setelah latihan intensif akhirnya bisalah menjiwai," ujar dosen Public Relations LSPR itu.
Walau demikian, 30 pemain yang berasal dari berbagai latar belakang budaya ini tampak memainkan setiap karakter dengan baik. Sepanjang pementasan, penonton tak henti-hentinya dibuat tertawa terpingkal-pingkal dengan adegan yang dimainkan secara apik menggunakan bahasa sehari-hari oleh pemain.
Salah satunya ketika adegan Subali dan Sugriwa yang tengah bertikai memperebutkan Dewi Tara. Dewi Tara yang diperankan oleh Elke Alexandria dengan bahasa anak jaman sekarang, Dewi Tara menanyai dimana keberadaan Subali selama ini.
"Kakang kemana saja selama ini? Di SMS nggak dibalas, ditelpon nggak diangkat, di
bbm-in cuma
checklist saja,
twitter, whatsup nggak dibalas, kemana?" ujar Dewi Tara kepada Subali dalam salah satu adegannya yang sontak mengundang gelak tawa para penonton.
Menurut Deputi Director LSPR yang juga merangkap sebagai sutradara pementasan Ketoprak Ramayana, Chrisdina Wempi, dosen LSPR memang berasal dari berbagai macam latar belakang budaya.
"Jadi kami berlatih dengan keragaman didalamnya. Tidak hanya ada dosen orang Jawa tapi juga ada yang bukan orang Indonesia," kata Wempi.
Menurut Wempi, hasil penjualan tiket acara ini akan disumbangkan ke LSPR Peduli. Yaitu mulai dari kegiatan lingkungan hidup, peduli korban bencana alam, kelaparan, banjir dan lain sebagainya.
[rsn]
BACA JUGA: