Pesan tersebut disampaikan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Eddy Hartono dalam Kemah Kebangsaan Blok Pelajar Politik Merdeka (BP2M) di Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta Timur. Kegiatan tersebut diikuti 1.600 pelajar SMA dari 58 sekolah se-Jabodetabek.
"Setelah mengikuti Kemah Kebangsaan ini saya harap teman-teman bisa menjadi agen-agen perubahan di sekolah masing-masing serta menerapkan nilai-nilai yang diperoleh selama kegiatan dalam kehidupan sehari-hari,” kata Eddy dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi, Rabu 21 Oktober 2026.
Menurut Eddy, pelajar perlu lebih kritis menghadapi arus informasi digital agar tidak mudah terpengaruh provokasi, konten kekerasan, maupun ujaran kebencian. Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan sekolah, tenaga pendidik, tenaga kependidikan, dan orang tua dalam membentuk lingkungan yang aman dan toleran.
“Jangan sampai terpapar informasi kekerasan dan ujaran kebencian. Terapkan prinsip 3T, yakni Tahan, Telusuri, dan Timbang, sebelum mempercayai atau membagikan informasi,” kata Eddy.
Eddy mengungkapkan, data BNPT mencatat 782 anak di 18 provinsi terpapar konten kekerasan melalui berbagai grup digital, termasuk true crime community (TCC). Temuan ini menjadi peringatan bahwa pengawasan dan pendampingan anak di ruang digital perlu diperkuat.
Ia menilai perlindungan generasi muda membutuhkan kolaborasi orang tua, sekolah, pemerintah, dan masyarakat. Selain meningkatkan kewaspadaan, anak perlu dibekali kemampuan berpikir kritis, empati, serta tanggung jawab dalam menggunakan media digital.
Ketua Umum Persatuan Intelektual Muda dan Pelajar Indonesia (Pionir), Muhammad Hanif, menilai Kemah Kebangsaan menjadi momentum mempererat persaudaraan sekaligus membangun karakter pelajar yang kritis dan demokratis. Ia berharap peserta mampu menjadi pelopor perubahan positif di lingkungannya.
BERITA TERKAIT: