Sebab dia menilai, zaman yang senantiasa berubah, menuntut media untuk bisa melakukan perubahan pula.
Perubahan itulah yang kemudian diintepretasikan oleh mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini sebagai pengembangan eksistensi media di tengah masyarakat.
"Zaman terus berubah, dan bukan yang paling kuat yang bisa beratahan, atau bukan pula yang paling pintar yang bisa bertahan, tapi siapapun yang bisa melakukan perubahan-perubahan," kata Mohammad Nuh dalam pembukaan acara Program Wartawan Spesialis, di Best Western Kindai Hotel, Jalan Ahmad Yani, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Jumat (7/1).
Dengan begitu, media ditantang untuk melakukan perubahan lewat transformasi peranannya di masyarakat.
Mohammad Nuh pun berujar, Dewan Pers berkeinginan untuk menjadikan seluruh media di Indonesia sebagai agen proses pembelajaran atau pendidikan masyarakat.
"Sehingga kita harus mentransformasi dari informasi data, kita ubah supaya menjadi knowledge, pengetahuan," terangnya.
Untuk merealisasikan semua itu, Dewan Pers memulai Program Spesialisasi Wartawan di awal tahun ini. Karena itulah di acara perayaan Hari Pers Nasional (HPN) tahun 2020 ini, program ini dibuka.
"Disinilah kenapa Dewan Pers dan semua konstituen akan sharing dengan kita. Semua ingin betuk media sebagai fungsi edukasi, sebagai fungsi pembelajaran, pencerahan dan wahana untuk hiburan," sebut mantan Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) ini.
"Tapi muaranya untuk memperkuat nasionalisme kita," demikian Muhammad Nuh menambahkan.
BERITA TERKAIT: