Pengamat kehutanan Yanto Santosa menyayangkan hal tersebut. Apalagi, tidak jarang data yang digunakan organisasi asing untuk intervensi pembangunan Indonesia kurang lengkap dan keliru.
Salah satunya, kritik atas pembangunan pembangkit listrik energi terbarukan, Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batangtoru, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara.
Dalam kasus ini, sejumlah LSM, maupun pihak asing menilai proyek akan mengancam keberadaan orangutan. Padahal, kata dia, lokasi pembangunan PLTA ada di luar kawasan hutan.
“Kalaupun ada orangutan yang menjelajah dekat dengan lokasi proyek, jumlahnya tidak sebanyak yang mereka klaim," kata Gurubesar Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB) itu kepada wartawan, Jumat (1/2).
Tidak hanya itu, Santosa juga menyinggung sejumlah lembaga yang menyebut Sumatera Utara surplus listrik sehingga tidak perlu dibangun PLTA Batangtoru.
“Itu salah. Listrik saat ini dipenuhi dari pembangkit berbahan bakar fosil yang disewa dari luar negeri. Jadi sesungguhnya keberadaan PLTA di Batangtoru ini penting," tegasnya.
[ian]