Perjalanan Mi'raj adalah perjalanan Nabi dari Masjidil Aqsa naik ke langit pertama sampai ke langit ke tujuh, melihat surga dan neraka, berkunjung ke Baitul Makmur tempat malaikat bertawaf seperti Masjidil Haram tempat manusia bertawaf (sampai di sini Nabi Muhammad SAW ditemani Malikat Jibril, pemimpin segala Malaikat), dilanjutkan Nabi Muhammad SAW sendiri naik ke Sidratul Munthaha menghadap Allah SWT untuk menerima perintah salat. Isra' Mi'raj adalah perjalanan menuju Sidratul Muntaha tersebut dan kembali lagi ke Mekkah dalam satu malam.
Perjalanan Isra' Mi'raj wajib dipercaya umat Islam, tidak saja karena disebut di dalam Alquran dan Hadits, namun juga karena salat yang diterima dalam perjalanan isra' mi'raj adalah tiang utama agama Islam, plus juga karena perjalanan tersebut sangat logis dan masuk akal karena Nabi Muhammad SAW "diperjalankan" oleh Allah SWT, bukan melakukan perjalanan tanpa intervensi Allah SWT untuk menundukkan hukum-hukum alam lintas dimensi tersebut.
Selama Nabi Muhammad SAW diperjalankan-Nya dalam Isra' dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsa di Palestina dan naik Mi'raj sampai ke Sidratul Munthaha tersebut dan kembali lagi ke Mekkah, Allah SWT memperlihatkan tanda-tanda kebesaran-Nya, dan Allah SWT banyak sekali memperlihatkan dimensi-dimensi kehidupan sosial kemasyarakatan dan implikasi spritualnya pada kehidupan setelah seseorang meninggal dunia kelak, sebagai persiapan pemahaman kepada Nabi makna sesungguhnya dari perintah salat yang akan diterima Nabi dan umatnya, perintah yang menutut kekhusyuan dalam melaksanakannya (salat khusyuk). Semua yang diperlihatkan tersebut diterangkan dengan sangat tepat dan sempurna oleh Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW.
Seluruh yang diperlihatkan Allah SWT dalam perjalanan Isra' Mi'raj tersebut sangat erat hubungannya dengan posisi salat sebagai tiang agama dan kehidupan, sangat erat hubungannya dengan makna hakiki salat khusyuk, baik khusyuk dalam artian ritual salat maupun khusyuk dalam artian dimensi non-ritual, terutama khusyuk dalam dimensi sosial.
Khusyuk Ritual Dan Khusyuk Sosial Salat
Khusyuk salat dalam dimensi ritual tidak bisa dipisahkan sama sekali dengan khusuk sholat dalam dimensi sosial. Ketika kekhusukan sholat ritual diawali dengan kesucian jasmani dan rohani dari segala hadas dan najis dan segala penyakit spritual (seperti ria) maka khusuk sholat dalam dimensi sosial pun demikian. Kehidupan haruslan dimulai dengan kebersihan jasmani dan rohani dari segala yang tidak bersih dan tidak halal.
Orang tua bertanggungjawab memastikan bahwa anaknya lahir ke dunia dengan tubuh yang bersumber dari materi zat yang bersih dan halal, bukan dari zat yang najis dan haram. Maka kekhusyukan salat di sini adalah jangan sampai anak terlahir dengan tubuh berasal dari makanan-makanan yang berunsur najis dan makanan yang berunsur tidak halal yang bersumber dari makanan najis dan tidak halal yang dikonsumsi orang tua selama kehamilan sang anak. Janganlah seorang anak lahir ke dunia di luar hubungan pernikahan yang sah secara agama.
Begitu juga dengan bacaan dalam salat, seluruhnya memiliki dimensi spritual dan dimensi sosial. Ketika dalam sholat kekhusyukan itu dipayungi dengan kalimat "salatlah seolah-olah engkau melihat-Ku (Allah), jika tidak bisa maka salatlah dengan keyakinan Allah melihat engkau," maka makna kalimat tersebut tidak saja terkait dengan kekhusyukan salat dimensi ritual tersebut, namun juga kekhusyukan salat dimensi sosial. Setiap gerak dan langkah serta tarikan nafas seseorang selama 24 jam sehari seharusnya dilakukan dengan khusuk seolah-olah dia melihat Allah SWT dalam aktivitasnya itu atau setidak-tidaknya menghadirkan kesadaran yang sangat khusyuk bahwa Allah SWT melihat segala bentuk aktivitas dan perilakunya.
Selama perjalanan Isra' Mi'raj Nabi diperlihatkan juga bagaimana tragisnya kehidupan orang yang tidak salat, bagaimana manusia yang suka membungakan uang (riba), bagaimana manusia yang suka melakukan penyakit masyarakat (zina, judi, dan lainnya), bagaimana pemimpin yang tidak adil, bagaimana manusia yang suka berbuat jahat kepada tetangganya, bagaimana penegak hukum yang mempermainkan hukum, dan lain sebagainha. Seluruh aspek kehidupan dan akibatnya di akhirat kelak bagi yang melakukan diperlihatkan.
Puncak perjalanan Isra Mi'raj sebelum Nabi Muhammad SAW menghadap Allah SWT untuk menerima perintah yang merupakan tiang agama (salat) adalah diperlihatkannya akhir dari perjalanan kekhusyukan manusia dalam kehidupan, akhir dari kekhusyukan ritual yang beriring sejalan dengan kekhusyukan sosial seorang hamba, yaitu surga yang tak bisa dijangkau imajinasi manusia kenikmatannya dan neraka yang tak terjangkau imajinasi mausia kengeriannya.
Sekali lagi, kesemuanya itu diperlihatkan sebelum perintah sholat diterima Nabi Muhammad SAW di Sidratul Muntaha secara langsung. Salat yang harus dilaksanakan dengan penuh kekhusukan, baik khusyuk dalam dimensi ritual maupun khusyuk dalam dimensi sosial.
Kekhusyukan salat dalam dua dimensi itulah yang akan membawa manusia hidup penuh kedamaian di dunia dan terhindar dari malapetaka kehidupan. Kekhusyukan salat dalam dua dimensi itulah yang akan membawa manusia masuk surga dan terhindar dari siksa neraka.
Kekhusukan manusia dalam salat dimensi ritual saat membaca "ihdinashirothal mustagiim, tunjukilah kami jalan yang lurus", haruslah beriringan dengan kekhusyukan sholat dimensi sosial dengan bersungguh-sungguh mencari ilmu dan pemahaman tentang "Jalan yang lurus" dan menjalani hidup sesuai "Jalan yang lurus" tersebut.
Seseorang yang khusyuk salat tidak akan korupsi, seseorang yang khusul sholat tidak akan menyakiti manusia lain, seseorang yang khusuk sholat tidak akan merusak alam dan lingkungan, seseorang yang khusuk sholat tidak akan suka menyebar fitnah dan kebohongan, seseorang yang khusyuk salat tidak akan mengingkari, seseorang yang khusyuk salat tidak suka menyebar kebencian dan permusuhan, seorang penegak hukum yang khusuk salat tidak akan mempermainkan hukum dan keadilan, dan seorang pemimpin yang khusuk sholat tidak akan menghianati kepemimpinannya, baik kepemimpinan dalam rumah tangga maupun kepemimpinan yang lebih luas di masyarakat dan negara. Karena itu bukanlah "Jalan yang lurus"
Kekhusyukan salat seseorang akan terlihat dalam kehidupan kesehariannya, terlihat dari kesejukan ucapannya, terlihat dari keteduhan pandangannya, ketegasannya pada prinsip, kepedulian pada sesama, kepeduliannya pada kelestarian lingkungan dan alam, keseriusannya mengemban amanah kepemimpinan, keadilan dalam segala dimensi, dan lain sebagainya.
Itulah makna sesungguhnya dari salat khusyuk, salat yang dilukiskan dalam ucapan Nabi Muhammad SAW tiga belas abad yang lalu
"Sesungguhnya SALAT itu MENCEGAH perbuatan KEJI dan MUNGKAR"
Selamat merayakan hari Isra' Mi'raj 1438 H
[***]
Penulis adalah Redaktur Khusus Kantor Berita Politik RMOL dan Sekjen Community for Press and Democracy Empowerment (PressCode)
BERITA TERKAIT: