"Jadi Jabar pengen punya demokrasi yang berkeadaban, yang penuh dengan budaya. Damai, beretika dan moral yang tinggi," ujar pengamat politik dari Universitas Padjajaran, Asep Warlan Yusuf seperti diberitakan
RMOLJabar.Com (Jumat, 24/3).
Pilkada juga kata dia, peristiwa akademik. Di situ ada diskusi-diskusi program, visi dan misi.
"Bagaimana cara meyakinkan dengan strategi, itu kan peristiwa akademik. Kalau bisa wacana-wacana pilkada itu hidup di kampus-kampus atau di tempat orang-orang mencari ilmu," terangnya.
Berkaitan preferensi pemilih di Jabar, menurut Asep, ada beberapa poin yang harus dipegang kandidat gubernur.
Pertama adalah 'siapa dia', maksudnya ialah rekam jejak kandidat yang mencalonkan gubernur.
"Dia punya kompetensi, punya pengetahuan yang cukup tentang Jabar, punya pengalaman yang banyak serta punya jaringan yang kuat. Itulah track record yang diinginkan masyarakat," katanya.
Kedua, kandidat cagub yang diinginkan, punya sisi ketokohan. Tidak sekadar populer, dekat dengan elit partai, punya uang atau massa banyak.
Ketiga, masyarakat pastinyan melihat partai yang mengusung si kandidat.
Keempat, visi misi dan programnya kalau nanti terpilih.
Kelima, cara kandidat memenangkan partai yang mengusungnya.
"Kalau caranya jujur, penuh empati, suasana yang menyejukkan,elegan pasti dipilih lah oleh masyarakat," urai Asep.
[wid]
BERITA TERKAIT: