Teater Koma Hadirkan Dua Lakon N. Riantiarno dalam Satu Pentas

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/ahmad-alfian-1'>AHMAD ALFIAN</a>
LAPORAN: AHMAD ALFIAN
  • Kamis, 22 Oktober 2026, 18:31 WIB
Kecil Besar
rmol news logo Teater Koma kembali menyapa penonton di Gedung Kesenian Jakarta dengan format pertunjukan berbeda. Melalui program KOMA SEJENAK Vol.1, kelompok teater yang dikenal dengan kritik sosialnya itu menyuguhkan dua lakon karya almarhum N. Riantiarno dalam satu rangkaian pentas.

Dua lakon tersebut adalah Srikandi yang disutradarai Nino Bukir dan Kebohongan di Atas Atap arahan Bayu Dharmawan Saleh. Keduanya tampil dalam satu pertunjukan dengan durasi masing-masing satu jam, diselingi waktu istirahat atau interval.

Format ini bukan sekadar menawarkan pengalaman menonton yang berbeda. KOMA SEJENAK juga menjadi upaya Teater Koma menghidupkan naskah-naskah yang lahir dari produktivitas Riantiarno selama pandemi Covid-19 pada 2020–2021, tetapi belum sempat dipentaskan.

Melalui program tersebut, Teater Koma membuka ruang bagi karya-karya yang tersimpan untuk kembali bertemu penonton, sekaligus memberi kesempatan kepada seniman baru untuk mengeksplorasi naskah dengan pendekatan artistik masing-masing.

Perbedaan sutradara membuat kedua lakon memiliki warna pementasan tersendiri. Namun, keduanya tetap berpijak pada karakter Teater Koma yang memadukan hiburan dengan kritik sosial, menghadirkan persoalan kehidupan melalui dialog, humor, dan situasi dramatik.

Dalam lakon Srikandi, kisah berangkat dari upaya Raja dan Ratu Jin mengganggu Srikandi sekaligus mencegah terjadinya perang Baratayuda. Cerita yang berakar pada dunia pewayangan itu menjadi ruang untuk menyampaikan kritik terhadap situasi sosial dan politik.

“Kritik biar dilantik,” demikian salah satu dialog yang mencuri perhatian.

Kalimat tersebut terasa menohok ketika kritik justru berhadapan dengan kepentingan dan kekuasaan. Di tengah berbagai persoalan yang diangkat, lakon ini juga menyentuh isu lingkungan, termasuk kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mengakibatkan satwa kehilangan habitat hingga mati.

“Dalam ‘Srikandi’, musuh tak nampak yang dilawan Srikandi dan Semar adalah representasi dari hoaks, propaganda, dan kebohongan publik yang terus berulang sepanjang sejarah. Lewat pementasan ini, kami mengemas pertarungan jiwa dan multimedia untuk menunjukkan bahwa perjuangan melawan kepalsuan adalah pertempuran abadi yang harus dijalani dengan kesadaran penuh," Nino Bukir, Sutradara ‘Srikandi’. 

Sementara itu, Kebohongan di Atas Atap menghadirkan persoalan kejujuran melalui tokoh Gamal. Setiap kali Gamal berbicara dan berbohong, hidungnya bertambah panjang satu sentimeter. Konsekuensi itu terus berulang hingga ia akhirnya memilih untuk tidak lagi berbohong.

Mirip seperti Pinokio, gagasan sederhana ini menjadi pintu masuk untuk membicarakan kebohongan dan akibatnya. Dengan premis yang mudah dipahami, lakon ini mengajak penonton melihat bagaimana kebohongan yang terus dipelihara dapat berubah menjadi beban bagi pelakunya sendiri.

“Lakon ‘Kebohongan Di Atas Atap’ adalah tentang betapa sulitnya manusia jujur pada dirinya sendiri di tengah tumpukan kebohongan yang ia bangun sepanjang hidup. Pertumbuhan hidung Pinokio di sini bukan sekadar metafora jenaka, melainkan simbol visual atas beban kebohongan yang menggerogoti jiwa.” kata Bayu Dharmawan Saleh, Sutradara Kebohongan Di Atas Atap.

Dua lakon ini memperlihatkan bahwa kritik sosial tidak harus disampaikan melalui ceramah panjang. Ia dapat hadir melalui simbol, kelucuan, situasi absurd, hingga dialog yang menyisakan pertanyaan setelah pertunjukan berakhir.

Dari sisi keaktoran, kekuatan pementasan terletak pada kemampuan para pemain menghidupkan karakter dan menjaga dinamika cerita. Perubahan suasana dari dialog yang ringan menuju situasi yang lebih serius sukses dimainkan dengan pengendalian emosi, ketepatan tempo, serta kepekaan terhadap permainan lawan main.

Musik turut menjadi elemen penting yang membangun cerita. Kehadirannya bukan sekadar pengiring, melainkan penopang suasana, penguat ritme dramatik, dan jembatan antara satu momen dengan momen berikutnya. Perpaduan dialog, gerak, dan musik membantu menjaga energi panggung sekaligus mempertegas nuansa yang ingin dibangun dalam masing-masing lakon.

Di balik formatnya yang ringkas, KOMA SEJENAK Vol.1 membawa misi yang lebih panjang: merawat warisan kreatif N. Riantiarno, memperluas ruang eksplorasi bagi seniman, dan mempertemukan kembali Teater Koma dengan penonton melalui karya-karya yang relevan dengan kehidupan hari ini.

Program KOMA SEJENAK Vol.1 digelar di Gedung Kesenian Jakarta pada Kamis, 22 Oktober 2026 pukul 19.30 WIB, serta Jumat, 23 Oktober 2026 pukul 14.30 WIB dan 19.30 WIB.

Melalui dua lakon yang berbeda, Teater Koma kembali menegaskan bahwa panggung bukan hanya tempat bercerita, tetapi juga ruang untuk bercermin, mempertanyakan keadaan, dan merawat keberanian menyampaikan kritik. rmol news logo article
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
EDITOR: AHMAD ALFIAN

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA