Kamis, 02 April 2026, 22:57 WIB
Salim M. Phil. (Foto: Dokumentasi Penulis)
DI tengah hiruk-pikuk dinamika domestik yang sering kali terasa kehilangan arah, gugurnya tiga prajurit TNI dalam misi UNIFIL di Lebanon menjadi alarm keras bagi kesadaran nasional. Peristiwa ini bukan sekadar berita duka, melainkan manifestasi tertinggi dari amanat Pembukaan UUD 1945: bahwa Indonesia wajib ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
Ketiga prajurit ini telah menunaikan "kurban" yang sesungguhnya bukan lagi berupa hewan ternak, melainkan nyawa dan raga demi tegaknya kemanusiaan di tanah konflik.
Namun, pengorbanan ini memotret kontras yang menyakitkan dengan realitas kepemimpinan bangsa saat ini. Di saat prajurit di garis depan menunjukkan keberanian baja, publik justru merasakan adanya kekosongan nyali di tingkat level kebijakan.
Muncul persepsi bahwa Indonesia kini menjadi bangsa yang "penakut"; bangsa yang tampak ragu dan kurang bertenaga saat martabat serta nyawa putra-putrinya dijadikan sasaran oleh bangsa lain saat melaksanakan misi perdamaian dunia, perlawanan perlawanan di forum forum internasional nyaris tak pernah lagi terdengar, bahkan membaca bahasa Inggris pun pletat pletot sementara lawan bicaranya mainan HP, sangat miris sekali.
Kompas Moral Bangsa
Artikel ini hadir untuk membedah bagaimana spirit kurban para penjaga perdamaian tersebut harus menjadi "Kompas Moral Bangsa". Keberanian mereka adalah tamparan sekaligus inspirasi bagi rakyat dan pemimpin negeri untuk kembali tegak berdiri. Kita perlu belajar bahwa menjaga perdamaian dunia bukan berarti membiarkan harga diri bangsa diinjak-injak, melainkan tentang keberanian untuk melawan ketidakadilan dengan kepala tegak, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh para ksatria Garuda di Lebanon Selatan.
Dunia hari ini tidak lagi butuh pemimpin yang hanya pandai berdiplomasi di atas karpet merah, melainkan pemimpin yang memiliki nyali saat martabat bangsanya diinjak. Dalam konteks ini, kepemimpinan Iran muncul sebagai standar keberanian baru atau a new gold standard of courage yang menampar wajah kelesuan kepemimpinan kita.
Iran menjadi sorotan dunia bukan sekadar karena kekuatan senjatanya, melainkan karena konsistensi antara kata dan perbuatan pemimpinnya. Ketika nyawa rakyat atau kedaulatannya disentuh, mereka tidak mengirimkan nota keberatan yang santun; mereka mengirimkan pesan ketegasan yang menggetarkan nyali lawan.
Inilah standar yang kini dirindukan rakyat Indonesia. Kita melihat kontras yang memuakkan: di satu sisi, prajurit kita di Lebanon menjadi martir bagi perdamaian dunia, namun di sisi lain, kepemimpinan kita justru tampak seperti "macan kertas" yang hanya berani mengaum di dalam negeri tetapi menciut saat berhadapan dengan kekuatan global.
Dahulu kita pernah dengar macan Asia, tapi lama lama sirna tak terdengar lagi mungkin telah menjadi kucing. Perbandingan dengan Iran menunjukkan bahwa pemimpin yang dicintai dan disegani bukanlah mereka yang pandai bersolek di media sosial, melainkan mereka yang pasang badan dan berdiri di baris paling depan saat ancaman datang.
Di sinilah kita membutuhkan Kepemimpinan Religius yang autentik bukan yang sekadar meminjam simbol agama untuk elektabilitas, bahkan banyak pemimpin yang beragama Islam namun salat pun enggan untuk beranjak. Dalam teori kepemimpinan religius, seorang pemimpin adalah khadimul ummah (pelayan umat) yang menanggung beban penderitaan rakyatnya di pundak sendiri. Kebanyakan saat ini kita jumpai, pemimpin berkutbah dengan menggunakan baju jabatan, ketika permasalahan datang nyalinya ciut masih menghitung keuntungan yang didapat, bahkan ketakutan hanya karena jabatan akan dilepas.
Kita bisa belajar dari keteladanan bangsa Iran, di mana kedekatan pemimpin dengan rakyatnya bukan sekadar seremoni, melainkan ikatan ideologis dan spiritual yang melahirkan keberanian untuk melawan penindasan global. Pemimpin yang berani berdiri di baris terdepan, menunjukkan bahwa kurban bukan hanya perintah bagi rakyat kecil, melainkan kewajiban pertama bagi sang pemegang tongkat komando.
Secara filsafat modern, eksistensi seorang pemimpin diuji melalui keberaniannya mengambil risiko (risk-taking) demi martabat kolektif. Friedrich Nietzsche pernah menyindir moralitas budak yang penuh ketakutan; bangsa ini butuh pemimpin dengan "kehendak untuk berkuasa" yang diarahkan pada perlindungan nyawa bangsanya, bukan sekadar pelestarian jabatan.
Pemimpin harus menjadi The Exemplary Figure sosok teladan yang menyatukan kata dan perbuatan. Bangsa ini mengalami krisis maskulinitas kekuasaan. Kepemimpinan di Iran mempraktikkan Kepemimpinan Religius yang asketik di mana pemimpinnya hidup sederhana namun memiliki mentalitas baja yang tak bisa dibeli.
Mereka menunjukkan bahwa keberanian bukan tentang mencari musuh, tapi tentang menjaga kehormatan bangsa dengan risiko apa pun. Sementara itu, kita terjebak dalam mentalitas "bangsa penakut" yang selalu mencari pembenaran untuk tidak bertindak tegas.
Tiga qurban prajurit UNIFIL kita adalah ujian moral terakhir. Jika kepemimpinan kita tetap memilih untuk diam dan hanya berkoar-koar demi citra domestik tanpa pembelaan nyata terhadap nyawa anak bangsa, maka kita sebenarnya sedang menggali kubur bagi kedaulatan kita sendiri.
Kita butuh pemimpin yang memiliki getaran keberanian yang sama dengan mereka yang di Iran pemimpin yang kedekatannya dengan rakyat bukan sekadar pencitraan, tapi sebuah janji suci untuk tidak membiarkan satu pun nyawa rakyatnya dijadikan sasaran tanpa perlawanan yang setimpal.
Sejarah Nusantara adalah kronik tentang keberanian yang meledak-ledak, bukan catatan tentang para pemimpi yang sembunyi di balik meja diplomasi yang tumpul. Jika hari ini kepemimpinan kita tampak "melempem" dan hanya berani berkoar-koar di dalam negeri sementara nyawa prajurit di Lebanon seolah menjadi tumbal tanpa pembelaan, maka kita sedang mengalami amnesia sejarah yang akut. Kita telah melupakan genetika kepemimpinan kita yang sejatinya adalah api, bukan abu.
Sejarah Kepemimpinan Indonesia
Lihatlah Raja Kertanegara dari Singasari. Ketika utusan Mongol, Meng Qi, datang membawa pesan ancaman dari penguasa dunia saat itu, Kubilai Khan, Kertanegara tidak menyambutnya dengan sujud syukur atau nota keberatan yang santun. Ia memotong telinga atau melukai wajah utusan tersebut sebagai pesan tegas: Nusantara bukan tanah jajahan. Inilah standar keberanian yang kini hilang pemimpin yang berani mengambil risiko tertinggi demi harga diri bangsa, sebuah "kurban" ego demi martabat kedaulatan.
Napas perlawanan ini diteruskan oleh para syuhada bangsa. Pangeran Diponegoro dan Tuanku Imam Bonjol tidak pernah berhitung untung-rugi saat kehormatan agama dan tanah air diinjak-injak. Mereka adalah representasi Kepemimpinan Religius yang otentik; pemimpin yang berada di parit yang sama dengan rakyatnya, merasakan dinginnya malam dan panasnya peluru. Puncaknya ada pada Panglima Besar Jenderal Sudirman. Dalam kondisi paru-paru yang tinggal separuh, ditandu menembus hutan dalam rasa sakit yang hebat, beliau menolak untuk menyerah. Baginya, kedaulatan tidak bisa dinegosiasikan dengan rasa sakit pribadi. Sudirman adalah kompas moral yang nyata: ia tidak memerintah dari istana yang nyaman, ia memimpin dari garis depan pengabdian.
Kepemimpinan tidak hanya membara di medan laga, tetapi juga tajam di meja perundingan melalui sosok KH Agus Salim, beliau adalah maestro diplomasi yang membuktikan bahwa kecerdasan intelektual harus berkelindan dengan keberanian mental. Sebagai representasi Kepemimpinan Religius yang asketik, Agus Salim menunjukkan bahwa martabat bangsa tidak ditentukan oleh kemewahan jabatan, melainkan oleh harga diri yang tak bisa dibeli.
Meskipun hidup dalam kesederhanaan yang ekstrem kerap berpindah kontrakan dan hidup prihatin Agus Salim adalah "The Grand Old Man" yang membuat diplomat dunia bertekuk lutut. Beliau tidak pernah berkompromi jika harga diri Indonesia diusik. Ingatlah momen ikonik saat beliau diejek dengan suara kambing dalam sebuah rapat; dengan tenang namun menghujam, beliau membalikkan keadaan dengan mengatakan bahwa hanya kambinglah yang mengerti bahasa kambing. Inilah diplomasi tingkat tinggi yang kita rindukan: keberanian untuk tidak menjadi "penakut" di hadapan bangsa lain, kemampuan untuk tetap tegak meskipun secara materi kita terbatas.
Agus Salim mengajarkan bahwa pemimpin harus menjadi intelektual yang bertenaga, bukan sekadar pejabat yang pandai bersolek. Beliau adalah kompas yang menunjukkan bahwa kedaulatan diperjuangkan dengan otak yang cerdas sekaligus nyali yang keras. Kepemimpinan sekarang tampak "melempem" karena kehilangan ruh Agus Salim; mereka fasih berkoar-koar di dalam negeri, namun mendadak kehilangan taji dan kecerdikan saat harus pasang badan melindungi nyawa prajurit dan rakyat di kancah global.
Apakah kita tidak menangis ketika balasan kata-kata yang penuh makna dari pejabat-pejabat Iran dengan berdiri tegak, ‘tidak hanya kamu jual saya beli akan tetapi kamu jual saya borong semuanya’. Sungguh kita merindukan pemimpin seperti itu.
Maka, kurban tiga prajurit UNIFIL di Lebanon adalah tamparan bagi para pemimpin yang hanya duduk manis di istana nyaman. Kita butuh perpaduan antara ketegasan Sudirman di medan tempur dan kecerdikan Agus Salim di meja runding. Standar keberanian baru yang kini ditunjukkan oleh kepemimpinan di Iran seharusnya menyadarkan kita bahwa bangsa besar hanya lahir dari pemimpin yang berani mengambil risiko, memiliki kedekatan spiritual dengan rakyatnya, dan tidak pernah membiarkan martabat bangsanya diinjak demi kepentingan pribadi atau kelompok.
Lantas, mengapa kepemimpinan sekarang tampak layu? Mengapa kita menjadi bangsa yang seolah "penakut" saat nyawa prajurit TNI UNIFIL dijadikan sasaran oleh kekuatan asing, dengan kesadaran mereka menghujani area yang jelas jelas kontingen Garuda dari Indonesia? Jawabannya ada pada krisis karakter. Pemimpin saat ini lebih sibuk membangun citra daripada membangun kedaulatan. Mereka lebih takut kehilangan jabatan daripada kehilangan martabat bangsa.
Mereka kehilangan Virtù kemampuan untuk bertindak berani di saat kritis. Kita melihat kontras yang menyakitkan saat dibandingkan dengan kepemimpinan di Iran yang kini jadi sorotan dunia; di sana, pemimpinnya berdiri tegak sebagai tameng rakyatnya, menjadi standar keberanian baru yang membuktikan bahwa harga diri bangsa jauh lebih mahal daripada stabilitas semu.
Sampai kapan kita akan terus membiarkan martabat bangsa ini digadaikan oleh para pemimpin yang hanya "jago kandang" dan bersolek di depan kamera dan nampak ganteng dan kulit yang klimis? ‘Kurban’ tiga prajurit TNI di Lebanon adalah alarm kematian bagi nurani kepemimpinan kita jika tidak segera ada perlawanan mental.
Rakyat Indonesia harus berhenti menjadi penonton yang pasif saat nyawa anak bangsanya dijadikan sasaran empuk bangsa lain. Kita tidak butuh pemimpin yang hanya pandai menebar janji dan pencitraan murah di media sosial, sementara nyali mereka menciut saat berhadapan dengan hegemoni luar.
Ingatlah, kedaulatan tidak pernah datang dari nota keberatan yang santun atau diplomasi yang penuh rasa takut. Kedaulatan lahir dari pemimpin yang memiliki keberanian eksistensial, pemimpin yang siap menjadi perisai hidup bagi rakyatnya sebagaimana yang dicontohkan oleh new gold standard of courage di Iran yang kini mengguncang dunia.
Jika kita terus memilih pemimpin "melempem" yang lebih takut kehilangan kursi daripada kehilangan harga diri bangsa, maka kita sebenarnya sedang mengkhianati darah Kertanegara, KH Agus Salim, Diponegoro, dan Sudirman yang mengalir di urat nadi kita.
Saatnya Bangkit
Filosofi kepemimpinan modern bukan tentang siapa yang paling populer, tapi siapa yang paling berani pasang badan di garis depan badai. Jangan biarkan pengorbanan prajurit kita di Lebanon hanya menjadi statistik duka yang menguap begitu saja. Saatnya rakyat Indonesia bangun! Tuntutlah kepemimpinan yang memiliki getaran suara yang membuat lawan gemetar, bukan pemimpin yang suaranya hanya merdu di dalam negeri tapi pilu di luar negeri.
Pilihlah pemimpin yang siap berjuang dan, jika perlu, berkorban bersama rakyatnya bukan yang membiarkan rakyatnya menderita demi menyelamatkan kehormatan diri sendiri. Semangat pengorbanan prajurit UNIFIL menjadi kompas moral kita: keberanian adalah nilai yang tak ternilai, dan menyerah kepada ketakutan adalah pengkhianatan terhadap amanat konstitusi. Seperti yang diingatkan oleh Kant, setiap manusia harus diperlakukan sebagai tujuan, bukan sebagai alat itulah dasar kehormatan yang harus dilindungi pemimpin.
Dan sebagaimana Rousseau menegaskan dalam gagasan kontrak sosial, kekuasaan yang sah lahir dari kehendak dan keselamatan rakyat; pemimpin sejati menempatkan perjanjian moral itu di atas ambisi pribadi. Bangkitlah, supaya kita tak terus meratapi kehilangan demi kehilangan; bangsa ini mewarisi ruh para pahlawan yang pernah mengguncang dunia.
Keberanian bukan sekadar retorika, melainkan janji yang ditepati jangan biarkan nyawa-nyawa yang gugur menjadi catatan sepi dalam sejarah. Bersama, kita bisa menjadikan setiap pengorbanan sebagai tonggak kebangkitan: berdiri tegak, bertindak bijak, dan saling melindungi.
Kini saatnya kita menyatakan dengan tegas dan penuh harap: bangkit demi martabat, bertindak demi keadilan, dan berani demi masa depan untuk Indonesia yang berani, adil, dan bermartabat. Pilihlah pemimpin yang punya nyali untuk menentang penindasan di mana pun dan oleh siapa pun; itulah janji yang menegakkan kehormatan bangsa…Semoga.
Salim M. Phil
Ketua Dewan Pakar KPPMPI, Kandidat Doktor Universitas Airlangga
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.