Konflik di Timur Tengah yang memicu lonjakan harga minyak mentah menjadi beban utama bagi prospek ekonomi kawasan yang sedang melambat.
Dikutip dari Reuters, STOXX 600 turun 0,61 persen ke level 598,86. Bursa regional utama juga berguguran. Indeks DAX Jerman melemah 0,21 persen atau 50,38 poin jadi 23.589,65, FTSE 100 menyusut 0,47 persen atau 48,62 poin ke posisi 10.305,15 dan CAC Prancis berkurang 0,71 persen atau 57,37 poin menjadi 7.984,44.
Harga minyak sempat menembus 100 Dolar AS per barel akibat ancaman penutupan Selat Hormuz oleh Iran dan serangan kapal tanker di Irak. Sebagai importir energi bersih, manufaktur Eropa sangat rentan terhadap biaya produksi yang melambung.
Pasar kini bertaruh Bank Sentral Eropa (ECB) akan menaikkan suku bunga pada Juli dan Desember mendatang. Ini merupakan pembalikan drastis dari ekspektasi pemangkasan bunga sebelum konflik terjadi.
Sektor perbankan terpukul, anjlok hingga 3,5 persen, memimpin pelemahan karena meningkatnya risiko resesi yang mengancam kualitas kredit dan aktivitas pinjaman.
Meski indeks melemah, beberapa emiten mencatat pertumbuhan signifikan berkat kinerja fundamental yang solid.
Sektor energi dan utilitas menguat, masing-masing 1,4 dan 1,8 persen karena terdongkrak harga komoditas.
Sektor pertahanan menguat didukung oleh saham Leonardo (Italia) yang naik 5,7 persen ke rekor tertinggi akibat lonjakan pesanan global.
BERITA TERKAIT: