Para pejabat Ukraina mengatakan warga sipil yang terperangkap di Mariupol, yang menampung sekitar 400.000 orang, menghadapi keadaan menyedihkan tanpa akses ke makanan, air, listrik atau panas.
"Penduduk distrik Tepi Kiri mulai dideportasi secara massal ke Rusia. Secara total, sekitar 15.000 warga Mariupol telah menjadi sasaran deportasi ilegal," ujar dewan kota Mariupol dalam sebuah pernyataan, dikutip dari
Reuters, Kamis (24/3).
Wakil Perdana Menteri Ukraina, Iryna Vereshchuk mengatakan dalam sebuah video
briefing, di tengah deportasi ini, pihak berwenang Ukraina melanjutkan upaya untuk mengamankan kesepakatan dari Rusia untuk membuka koridor kemanusiaan untuk dijadikan jalur evakuasi ke dan dari Mariupol.
Masing-masing pihak saling menyalahkan atas kegagalan berulang untuk menyepakati pengaturan evakuasi warga sipil dari Mariupol.
Sebelumnya, Pihak berwenang Mariupol mengatakan pada Minggu bahwa ribuan penduduk telah dibawa secara paksa melintasi perbatasan tetapi tidak memberikan angka yang lebih tepat.
Kantor berita Rusia,
Interfax mengatakan pada saat itu bahwa bus telah membawa beberapa ratus orang Moskow memanggil pengungsi dari Mariupol ke Rusia dalam beberapa hari terakhir.
BERITA TERKAIT: