Berdasarkan kesepakatan dalam COP26 di Glasgoq, Skotlandia yang berakhir pada Sabtu (13/11), negara-negara sepakat untuk mengurangi penggunaan batubara secara bertahap, alih-alih menghentikannya secara bertahap.
Perubahan itu dilakukan atas inisiasi dari China dan India. India, yang didukung oleh China dan sejumlah negara berkembang lainnya yang bergantung pada batubara, menolak klausul "penghapusan secara bertahap".
Melihat hal tersebut, Presiden COP26 Alok Sharma pada Minggu (14/11) mengatakan, China dan India perlu memberikan penjelasan mengenai perubahan bahasa yang dinilainya lebih lunak terhadap penggunaan batubara.
"Dalam hal China dan India, mereka harus menjelaskan masalah khusus ini," kata Sharma pada konferensi pers di Downing Street di London, seperti dikutip
Reuters.
Sementara itu, Perdana Menteri Inggris Boris Johnson tampaknya tidak mempermasalahkan perubahan bahasa tersebut.
"Apakah bahasa itu 'bertahap' atau 'berhenti' tampaknya bagi saya sebagai penutur bahasa Inggris tidak membuat banyak perbedaan. Arah perjalanannya hampir sama," ujar Johnson.
Johnson mengatakan COP26 telah menyampaikan mandat untuk memotong penggunaan pembangkit listrik tenaga batubara yang didukung oleh tindakan nyata dari masing-masing peserta.
"Ketika Anda menambahkan semua itu bersama-sama, tidak diragukan lagi bahwa Glasgow telah membunyikan lonceng kematian bagi tenaga batubara," katanya pada konferensi pers.
BERITA TERKAIT: