Rencana yang disebut dengan "Inisiatif Jaringan Hijau" itu diperkenalkan dalam KTT Perubahan Iklim atau COP26 di Glasgow, Skotlandia pada Selasa (2/11).
Sebanyak lebih dari 80 negara mendukung rencana tersebut, seperti dikutip
Reuters.
Nantinya jaringan itu akan memungkinkan bagian dunia yang memiliki kelebihan energi terbarukan untuk mengirimnya ke daerah yang kekurangan.
Misalnya, negara-negara di mana matahari telah terbenam dapat menarik listrik dari negara lain yang masih dapat menghasilkan listrik tenaga surya.
Selain itu, inisiatif ini juga dapat dijadikan mekanisme bagi negara-negara kaya membantu negara-negara miskin untuk mengurangi emisi mereka dan memenuhi tujuan membatasi pemanasan global pada 1,5 derajat Celcius.
"Jika dunia harus bergerak ke masa depan yang bersih dan hijau, jaringan transnasional yang saling terhubung ini akan menjadi solusi penting," kata Perdana Menteri India Narendra Modi.
Pakar energi independen AS Matthew Wald mengatakan rencana itu menggarisbawahi bagaimana sumber energi terbarukan membutuhkan lebih banyak saluran transmisi karena mereka harus sering dibangun jauh dari kota, tidak seperti pembangkit listrik tenaga batu bara atau gas yang bahan bakarnya dapat dikirim.
Meskipun teknologi powerline telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir, Wald dan yang lainnya mengatakan rencana tersebut akan membutuhkan pengeluaran dalam jumlah besar.
"Kita berbicara tentang jaringan transmisi yang perlu berada di bawah laut. Mereka harus melintasi pegunungan. Mereka harus melintasi gurun," jelas peneliti di Pusat Studi Strategis dan Internasional yang berbasis di Washington, Kartikeya Singh.
BERITA TERKAIT: