Pecahkan Kebuntuan Komunikasi Washington-Beijing, Joe Biden Bakal Tunjuk Nicholas Burns sebagai Dubes AS untuk China

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/reni-erina-1'>RENI ERINA</a>
LAPORAN: RENI ERINA
  • Sabtu, 21 Agustus 2021, 09:22 WIB
Pecahkan Kebuntuan Komunikasi Washington-Beijing, Joe Biden Bakal Tunjuk Nicholas Burns sebagai Dubes AS untuk China
Nicholas Burns/Net
rmol news logo Presiden Joe Biden berencana untuk menunjuk diplomat veteran Nicholas Burns untuk menjabat sebagai duta besar AS untuk China selanjutnya.

Gedung Putih mengumumkan hal iu dalam koferensi pers, Jumat (20/8) waktu setempat.

Jika dikonfirmasi oleh Senat, maka Burns akan menuju China di tengah ketegangan hubungan kedua negara dan mengisi pos yang kosong sejak Oktober, setelah utusan mantan Presiden Donald Trump, Terry Branstad, mengundurkan diri.

Terpilihnya Burns menandai pergeseran peran duta besar untuk Beijing, yang selama satu dekade terakhir diisi oleh mantan politisi, bukan diplomat berpengalaman.

Burns tidak dianggap sebagai spesialis kebijakan China, begitu pula empat duta besar AS sebelumnya untuk Beijing.

Burn yang kelahiran Buffalo, New York, adalah pensiunan pegawai dinas luar negeri yang menjabat sebagai wakil menteri luar negeri antara tahun 2005 dan 2008. Dia juga adalah Profesor Diplomasi dan Politik Internasional di Harvard Kennedy School of Government. Hingga saat ini dia menulis kolom dua mingguan tentang urusan luar negeri untuk Boston Globe.

Evan Medeiros, seorang spesialis Asia dalam pemerintahan Obama, mengatakan dengan dipilihnya Burns mengindikasikan Biden mencari model komunikasi baru dengan Beijing pada saat dialog tingkat tinggi reguler telah berhenti berkembang dalam menghadapi persaingan ideologis yang semakin meningkat.

"Apa yang Anda katakan adalah kita membutuhkan kuda pekerja, bukan kuda pertunjukan," katanya, seperti dikutip dari CGTN, Sabtu (21/8).

"Kami ingin duta besar kami menjadi salah satu pemain kunci dalam hubungan ini, dan kami membutuhkan seseorang yang memahami politik kekuatan besar," lanjutnya.

Bejing dan Washington - dua raksasa ekonomi dunia - berselisih atas berbagai masalah, termasuk perdagangan, teknologi, virus corona, Taiwan, dan sengketa Laut China Selatan, di mana keduanya saling tuding sebagai pembuat provokasi.  rmol news logo article

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA