Sebagai bekas wilayah kekuasaan Inggris, mestinya Australia menjadikan negara itu sebagai acuannya. Namun, sejak Perang Dunia I, Australia memilih Amerika Serikat (AS) untuk tumpuannya. Sebagai negara adidaya, AS dirasakan dapat memberi perlindungan dan pengayoman kepada Australia, terutama dari ancaman Jepang yang hendak menguasai Asia Pasifik.
Di tengah jalan, hubungan strategis AS-Australia sempat terganggu secara bertahap. China muncul sebagai peluang sekaligus acaman bagi negara-negara yang memandangnya sebagai musuh. Kebangkitan China telah menjadi faktor utama yang mendorong negara-negara di bagian dunia ini untuk menyesuaikan menurut cara mereka memandangnya.
“Australia menonjol sebagai kekuatan menengah pragmatis yang telah memaksimalkan setiap aspek kekuatan China yang sedang tumbuh, terutama dalam masalah ekonomi dan pendidikan,†ujar Kavi Chongkittavorn, jurnalis senior Thailand urusan regional dalam artikel yang ditulisnya.
Manfaat hubungan Australia-China sangat besar dan bertambah cepat sehingga saling ketergantungan antara kedua negara itu. Sejak 2007 China telah menjadi mitra dagang terbesar Australia, menggantikan Jepang, dengan perdagangan senilai 235 miliar dolar AS pada 2019, dan menyumbang 32,6 persen dari ekspornya. Pada tahun lalu, 212.264 siswa China yang menempuh pendidikan di Australia, menghasilkan tambahan 8,6 miliar dolar AS. Namun, belakangan hubungan harmonis itu juga terkikis.
“Pandemik Covid-19 dan dampak jangka panjangnya, membuat hubungan AS-Australia yang dulu tak tergoyahkan kini berada di tanah berbatu, karena meningkatnya persaingan AS-China,†kata Kavi.
Pemerintahan Trump yang keras mendorong sekutunya untuk memihaknya dengan tuntutan baru. beberapa dari mereka dapat dilakukan tetapi yang lain tidak.
Menurut Australian Broadcasting Corporation, Menteri Luar Negeri Australia Marise Payne dengan singkat menyatakan bahwa pada pertemuan keamanan bilateral di Washington pada pekan lalu sementara negaranya berbagi landasan bersama yang sangat besar dengan AS, ternyata keduanya tidak secara otomatis menemukan kesamaan.
"Yang paling penting, dari sudut pandang kami, kami membuat keputusan, penilaian kami sendiri tentang kepentingan nasional Australia dan menjunjung tinggi keamanan kami, kemakmuran dan nilai-nilai kami," kata Payne.
Soal Laut China Selatan, contohnya. Pada akhirnya, Australia memutuskan tidak akan melakukan ‘kebebasan’ latihan navigasi yang diusulkan oleh AS di laut itu. Payne mengatakan hubungan negaranya dengan China sangat penting dan tidak akan melakukan apa pun yang dapat merusak hubungan yang bertentangan dengan kepentingan nasional negara itu.
Respons tumpul Australia terhadap tuntutan sekutunya itu membuat studi kasus yang bagus untuk sekutu AS lainnya yang menghadapi dilema yang sama, terutama ketika mengatakan ‘tidak’ kepada AS.
Pada masa John Howard sebagai perdana menteri (1996-2007), Australia dianggap sebagai wakil sheriff marshal global AS. Apa pun yang ingin dilakukan AS, maka Canberra akan muncul untuk mendukungnya.
Namun, kebangkitan China dan negara-negara berkembang lainnya telah terus mengubah dinamika hubungan Australia dengan AS dan teman-teman lainnya seperti Jepang.
Walau sempat terganggu, pada kenyataannya Australia masih tetap menjadi sekutu AS yang teguh. Di sisi lain, perekonomiannya semakin tergantung pada pasar China yang sangat besar. Australia pun terjepit pada kekuatan dua negara besar ini.
Sebelum Trump menggantikan mantan Presiden Barack Obama, Australia adalah contoh buku teks tentang kekuatan menengah yang berhasil menyeimbangkan kepentingan keamanan dan ekonominya dengan negara-negara adidaya dunia. Beijing akan mentolerir tindakan diplomatik yang timbul dari kepentingan nasional Australia, sesulit apa pun. Terutama jika itu terkait dengan masalah hak asasi manusia atau politik domestik Australia.
“Jangan sampai kita lupa, posisi independen Canberra pada isu-isu global utama seperti perubahan iklim dan multilateralisme tidak selalu cocok dengan Beijing. Interaksi ini telah memperkuat hubungan bilateral mereka,†ujar Kavi.
Namun, jika ada sesuatu yang tidak bisa diterima oleh Beijing, maka di sanalah Washington mencari celah. Seperti misalnya, China bereaksi keras terhadap pandangan Perdana Menteri Scott Morrison tentang seruan untuk penyelidikan independen terhadap asal-usul virus corona, sengketa Laut China Selatan, hukum keamanan Hong Kong, dan situasi di Xinjiang.
Jika dicermati lebih dekat, banyak orang yang menghargai upaya Australia yang berusaha berada di tengah. Sebagai contoh, Australia belum bertindak sejauh pernyataan Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo bahwa klaim China di Laut Cina Selatan itu melanggar hukum. Posisi Australia jelas: ia mendukung penyelesaian damai berdasarkan aturan dan hukum internasional.
Sayangnya, Australia kini mulai terang-terangan menunjukkan keberpihakannya di tengah tekanan yang mendera. Australia mulai ikut-ikutan AS untuk mengkritik China dan menuduhnya soal asal-usul virus corona. Tuduhan yang dilontarkan berkali-kali itu membuat China gerah dan menjauhi Australia.
Sejak itu China juga telah menghentikan impor daging sapi dari empat pengolah daging terbesar di Australia dan memberlakukan tarif yang tinggi terhadap impor gandum.
Langkah China itu dipastikan bakal berpengaruh pada ekonomi Australia mengingat Negeri Tirai Bambu merupakan pasar ekspor terbesar Australia. Di mana cakupannya mencapai lebih dari 30 persen ekspor Australia.
Pendekatan Australia sangat menunjukkan ia adalah sekutu AS yang setia karena reaksinya yang cepat pada posisi dan kebijakan yang menggemakan nilai-nilai AS dan Barat. Sementara sekutu AS lainnya lebih berhati-hati.
Mestinya, Australia harus mengurangi ketergantungannya pada perlindungan AS. Jelas, itu lebih mudah diucapkan daripada dilakukan.
“Dibutuhkan lebih banyak ruang untuk melakukan manuver diplomasi terhadap kawasan. Memperluas hubungan keamanannya dengan Asean dan negara-negara anggotanya seperti Indonesia dan Thailand akan membantu meningkatkan daya tawar Australia,†ujar Kavi.
Banyak pakar mengatakan ketegangan AS-China akan meningkat menjelang pemilihan November. Kedua belah pihak telah berbaris bersama sekutu dan teman-teman mereka dengan segala macam harapan. Australia semakin nyata berada di sisi AS.
Pada Selasa (28/7) pekan lalu, AS dan Australia mengatakan bakal memperluas kerja sama militer di tengah meningkatnya ketegangan dengan China. Tak tanggung-tanggung, keduanya juga bersumpah untuk membentuk front bersama di antara sekutu.
Dikutip dari
CNA, Menteri Pertahanan AS Mark Esper mengatakan, “Latihan ini tidak hanya meningkatkan komunikasi erat dua negara, tetapi juga mengirim sinyal yang jelas ke Beijing kami akan terbang, kami akan berlayar, dan kami akan beroperasi di mana pun hukum internasional mengizinkan dan mempertahankan hak-hak sekutu plus mitra kami untuk melakukan hal serupa.â€