Trump menduga ada serangan bom di belakang insiden ledakan besar yang mengguncang Beirut pada Selasa (4/8). Hal itu bertentangan dengan penjelasan pejabat Lebanon sebelumnya yang mengatakan bahwa kejadian itu disebabkan oleh bahan peledak yang disita.
Penyebab pasti ledakan itu sendiri belum jelas. Kepala Keamanan Umum Lebanon Abbas Ibrahim mengatakan insiden ledakan itu disebabkan oleh bahan peledak yang disita dari sebuah kapal beberapa tahun yang lalu. Menteri Dalam Negeri Lebanon juga mendukung penjelasan itu, dengan mengatakan bahan itu adalah amonium nitrat yang disimpan di pelabuhan sejak 2014.
Trump mengungkap penjelasan yang lebih mengancam di balik insiden ledakan itu. Mengutip briefing oleh militer AS, orang nomor satu di AS berpendapat bahwa ledakan itu disebabkan oleh bom.
“Saya bertemu dengan beberapa jenderal besar kita dan mereka sepertinya merasa itu adalah sebuah serangan,†kata Trump menjawab pertanyaan seorang reporter di briefing Virus Corona Gedung Putih.
“Ini bukan semacam acara manufaktur-ledakan. Sepertinya, menurut mereka -mereka akan tahu lebih baik daripada saya- tampaknya berpikir itu adalah serangan. Semacam bom,†ungkapnya seperti dikutip dari
Politico, Rabu (5/8).
Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih tidak memberikan komentar lebih lanjut.
Meskipun para pejabat Lebanon tidak mengatakan apakah peledakan itu disengaja, Presiden Michel Aoun mengatakan bahwa siapa pun yang berada di balik insiden itu akan dimintai pertanggungjawaban.
Trump membuka pengarahan hariannya yang menyatakan belasungkawa kepada mereka yang terkena dampak ledakan itu dan mengatakan Amerika Serikat akan siap membantu Lebanon.
“Doa kami ditujukan kepada semua korban dan keluarga mereka. Amerika Serikat siap membantu Lebanon. Kami memiliki hubungan yang sangat baik dengan rakyat Lebanon dan kami akan ada di sana untuk membantu. Itu adalah serangan yang mengerikan,†kata Trump.