Para pengunjuk rasa menunjukkan ketidakpuasan mereka terhadap pemerintah. Mereka geram dengan sejumlah kebijakan pemerintahan Presiden Ivan Duque, termasuk rencana ekonomi, lemahnya pemberantasan korupsi serta pembunuhan aktivis hak asasi manusia yang masih terus terjadi.
"Saya menentang penindasan, pelecehan, agresi, dan penganiayaan yang dilakukan pemerintah," kata salah seorang pengunjuk rasa di Bogota yang juga merupakan pensiunan, Claudia Rojas.
"Lebih dari segalanya saya menentang reformasi tenaga kerja, pensiun dan kesehatan yang diinginkan pemerintah," sambungnya seperti dimuat
Reuters.
Kolombia sendiri bergabung dengan negara-negara di Amerika Selatan lainnya yang harus menghadapai unjuk rasa di jalanan. Aksi protes jalanan dimulai pada Kamis (21/11) di mana lebih dari 250 ribu orang turun ke jalan melakukan aksi protes nasional. Mereka menyuarakan ketidakpuasan yang tumbuh atas pemerintah Duque.
Aksi tersebut menyebabkan tiga orang meninggal dunia karena terkait dengan dugaan penjarahan. Pihak berwenang masih menyelidiki kasus tersebut.
Sehari setelahnya, ribuan orang kembali berkumpul di jalanan untuk menggelar aksi protes yang disebut dengan "cacerolazo". Itu adalah protes tradisional Amerika Latin di mana orang-orang membenturkan panci dan wajan.
Pasca munculnya gelombang protes, pemerintah di ibukota memberlakukan jam malam mulai jam 9 malam hingga jam 5 pagi.
Duque menegaskan bahwa polisi dan tentara akan melakukan patroli terus-menerus untuk mencegah vandalisme lebih lanjut, setelah dua malam gangguan menyebabkan puluhan stasiun angkutan umum rusak, beberapa toko dijarah dan banyak penduduk panik akan keselamatan mereka.
BERITA TERKAIT: