Kesepakatan itu diambil Presiden Yaman, Abdrabbuh Mansour Hadi demi mengakhiri konflik perebutan kekuasaan di Yaman selatan.
Hadi mendapat dukungan penuh dari Arab Saudi dalam mengambil keputusan. Dukungan mencakup peraturan mengenai sistem kekuasaan yang melibatkan Hadi dan Dewan Transisi Selatan (STC) yang berselisih di Aden selama berbulan-bulan.
Dalam isi perjanjian, akan diumumkan beberapa hari mendatang dan mengikuti negosiasi yang dilakukan selama beberapa pekan oleh Arab Saudi.
Seperti dikutip
Aljazeera, Minggu (27/10), Menteri Informasi Yaman, Yaman Muammar Eryani mengatakan bahwa perjanjian itu telah ditandatangani dalam dua hari.
STC adalah kelompok Yaman yang bergabung dengan pemerintaha aliansi militer Arab Saudi. Mereka melakukan intervensi militer di Yaman pada Maret 2015 untuk memperbaiki pemerintahan Hadi, yang tidak lama setelah dipindahkan dari Sanaa oleh Pemberontak Houthi. STC dibentuk pada 2017 dengan dukungan dari pemerintah Arab.
Pada bulan Agustus, gerakan separatis yang juga didukung UEA ingin membuat pemerintahan sendiri di wilayah Yaman selatan. Mereka menyalahkan pemerintahan Hadi ketika pasukannya merebut kursi sementara wilayah Aden.
Beberapa pekan terakhir, Arab Saudi berusaha memfokuskan koalisi untuk melawan Houthi di perbatasannya yang berulang kali meggunakan rudal dan serangan pesawat nirawak ke kota-kota di Arab Saudi selama berkonflik.
Dalam rangka menjaga keamanan, Kerajaan Arab menaruh pasukannya di Yaman selatan. Arab Saudi juga menambah pasukan, mengirim kendaraan lapis baja, tank, dan peralatan militer lainnya.
Pada awal bulan ini, Kerajaan Arab menjaga keamanan di wilayah ibukota Yaman, Aden. Tepatnya, setelah UEA menarik sebagian pasukannya dari ibukota.
Laporan: Ahda Sabila
BERITA TERKAIT: