Tuduhan itu dilayangkan Morales pada Rabu (23/10) pasca pemilihan umum akhir pekan kemarin.
Dengan 97 persen suara dihitung, hasil resmi menunjukkan bahwa Morales mengantongi 46,49 persen suara, atau 9,5 poin lebih tinggi daripada saingan utamanya Carlos Mesa. Meski begitu, Morales masih kurang 10 persen suara yang diperlukan untuk langsung dinyatakan sebagai pemenang pemilu tanpa pemilihan putaran kedua.
Namun, dalam sebuah konferensi pers di ibukota administratif La Paz, Morales menegaskan kembali bahwa dia telah memenangkan pemilihan hari Minggu secara langsung dan menuduh saingannya tengah mengatur kudeta.
"Saya telah memanggil konferensi ini untuk mengecam di hadapan orang-orang dan seluruh dunia, bahwa kudeta sedang berlangsung, bahwa hak telah dipersiapkan sebelumnya dengan dukungan internasional," katanya, seperti dikabarkan
Al Jazeera.
Pernyataannya itu disampaikan setelah tiga hari kerusuhan dan protes terjadi di seluruh negara yang terkurung daratan itu. Ribuan pemuda turun ke jalan menuduh Morales merusak pemilihan, Aksi protes tidak jarang diwarnai oleh kerusuhan dan kekerasan seperti pembakaran stasiun penghitungan dan kotak suara.
Bolivia sendiri diprediksi masih harus menggelar pemilu putaran kedua pada bulan Desember mendatang karena tidak ada calon presiden yang mengantongi ambang batas suara.
BERITA TERKAIT: