Dalam sebuah email yang bocor baru-baru ini disebutkan bahwa maskapai tersebut diinstruksikan oleh pemerintah China untuk mengikuti kebijakan "Satu China".
Email tersebut, yang dikutip oleh pos South China Morning dan dikutip BBC, mengatakan bahwa awak kabin mengikuti kebijakan "Satu China".
"Ini berarti Anda harus melepaskan bendera Taiwan dari rompi servis Anda dan menggantinya dengan bendera China," tulis Nicola Parker, manajer standar pakaian dan pengembangan maskapai penerbangan.
Namun, beberapa jam kemudian, Parker menulis email kedua yang mengatakan bahwa pesan sebelumnya salah dan tidak pantas.
"Tolong jangan memakai bendera Taiwan Anda pada penerbangan sampai pemberitahuan lebih lanjut, karena itu tidak ada bendera yang disyaratkan pada seragam Anda," tulisnya.
Namun dalam sebuah pernyataan kepada
BBC, maskapai tersebut meminta maaf atas apa yang dikatakannya sebagai kesalahan komunikasi.
"Email internal dikirim ke kru kabin yang menginstruksikan mereka untuk mengeluarkan pin bendera dari seragam mereka dan menggantinya dengan pin bendera lain. Email ini dikirim karena kesalahan dan sejak saat itu telah ditarik kembali," begitu bunyi keterangan pihak maskapai.
"Tujuan kami adalah untuk mengingat pin bendera yang dikenakan oleh semua awak kabin kami sebagai bagian dari pembaruan seragam kami, ini berdasarkan umpan balik dan tinjauan yang berkelanjutan dari tim kami. Semua awak kabin tidak lagi diharuskan memakai pin bendera sebagai bagian dari rangkaian kabin kami," tambahnya.
[mel]
BERITA TERKAIT: