Seharusnya Donald Trump merasa malu bahwa dirinya menganggap Islam sebagai agama buruk sementara negerinya sendiri dengan mayoritas Nasrani terbukti masih begitu asyik mendiskriminir perempuan. Amerika Serikat memiliki undang-undang anti diskriminasi jenis kelamin sehingga sebutan gender ditiadakan. Istilah Male dan Female diganti menjadi Person.
Sayang sekali pada kenyataan kehidupan ternyata perempuan masih dilecehkan termasuk oleh kaum perempuan sendiri. Masih banyak kaum perempuan AS menganggap gerakan feminisme sebagai gerakan tidak senonoh sebab dianggap melawan kodrat bahwa perempuan harus subordinan terhadap lelaki.
Alkitab Nasrani yang mengisahkan Adam diciptakan terlebih dahulu ketimbang Eva masih ditafsirkan oleh mayoritas masyarakat AS masa kini sebagai bukti bahwa lelaki wajib diutamakan ketimbang perempuan. Eva juga dianggap sebagai biang keladi alias profokator Adam ikut memakan buah terlarang di taman Eden sebagai dosa pertama manusia sampai diusir Tuhan untuk turun ke dunia.
Nasib Hillary Clinton merupakan bukti bahwa diskriminasi jenis kelamin masih sangat kokoh hadir di persada negara paling adikuasa di planet bumi yang seharusnya memiliki peradaban yang sudah tidak membenarkan diskriminasi. Ketika masih menyandang nama Rodham, Hillary sempat menyampaikan orasi Wellesley yang termashur dengan pernyataan bahwa generasi muda perempuan Amerika Serikat tidak percaya bahwa perempuan mustahil menjadi pemimpin Amerika Serikat.
Namun, tampaknya sementara ini memang perempuan masih belum diperkenankan untuk menjadi pemimpin Amerika Serikat meski segenap jajak-pendapat meyakini bahwa Hillary Clinton pasti akan menjadi presiden AS menggantikan Barack Obama. Perlawanan terhadap kepresidenan Hillary praktis sudah dimulai sejak 1978 sejak suaminya, Bill Clinton terpilih menjadi gubernur Arkansas sebab sejak dini partai Republik sudah mencium aroma ambisi kepresidenan Hillary.
Serangan politik terhadap Hillary akibat karier hukumnya yang gilang-gemilang, penganut mashab kesetaraan gender dan upaya bertahan pada nama gadis ketimbang mengikuti nama suami.
Demi memuluskan perjalanan ke tahta kepresidenan, sebenarnya Hillary sudah melakukan berbagai pencitraan seperti mengganti nama keluarga Rodham menjadi Rodham Clinton bahkan dipangkas lagi menjadi Clinton, merubah gaya busana dan rambut, berperan apik sebagai first lady di Arkansas maupun United States, profesional menempuh perjalanan politik dari senator menjadi menteri lalu dua kali calon presiden.
Namun kegemilangan karier politik Hillary justru makin membarakan api kebencian terhadap perempuan hebat ini. Bahkan partai Demokrat yang seharusnya mendukung malah sempat menyatakan Hillary Clinton tidak tulusâ€. Kecemerlangan Hillary dalam perdebatan capres dihancurkan komentar Trump bahwa Hillary adalah perempuan busuk†. Pencalonan kembali diri Hillary setelah gagal menjadi presiden sepuluh tahun yang lalu ditafsirkan sebagai ambisi berlebihan bahkan gila kekuasaan.
Pendek kata, sementara ini masyarakat Amerika Serikat memang belum siap menerima perempuan sebagai pemimpin mereka. Pada hakikatnya, Hillary Clinton gagal menjadi presiden Amerika Serikat bukan akibat kehebatan kepemimpinan Donald Trump namun sekadar akibat masyarakat Amerika Serikat masih menganut paham diskriminasi jenis kelamin demi menjunjung tinggi harkat dan martabat jenis kelamin lelaki belaka dan kebetulan Hillary Rodham dilahirkan sebagai perempuan di Chicago, USA.
Saya pribadi menghormati dan menghargai Hillary Clinton sebagai perintis perjuangan kaum perempuan untuk menjadi setara dan sejajar dengan kaum lelaki di Amerika Serikat. Memang kini, Hillary Clinton gagal namun saya yakin masih banyak kaum perempuan di Amerika Serikat akan melanjutkan perjuangan Hillary Clinton. Insya Allah, pada suatu hari di masa depan, seorang perempuan akan berhasil menjadi pemimpin Amerika Serikat.
Penulis adalah pendiri Pusat Studi Kelirumologi dan penulis buku Kelirumologi Genderisme
BERITA TERKAIT: