Heboh Kolintang Di Sydney Opera House

 OLEH: <a href='https://rmol.id/about/jaya-suprana-5'>JAYA SUPRANA</a>
OLEH: JAYA SUPRANA
  • Kamis, 10 November 2016, 08:55 WIB
<i>Heboh Kolintang Di Sydney Opera House</i>
Jaya Suprana/Net
PADA saat bersamaan dengan kemenangan Donald Trump menghebohkan Amerika Serikat, pergelaran perdana - dunia konser kolintang menghebohkan panggung gedung kesenian terkemuka dunia, Sydney Opera House.

Kolintang merupakan bagian dari budaya alat musik Asia Tenggara, yang telah dimainkan selama berabad-abad di Kepulauan Melayu Timur, Filipina, Indonesia Timur,  Malaysia Timur,  Brunei, dan Timor.

Mengagumkan, kreatifitas masyarakat Minahasa, Sulawesi Utara yang berhasil mengembangkan alat musik kolintang yang terbuat dari bahan metal menjadi alat musik kolintang yang terbuat dari bahan kayu. Meski terbuat dari bahan kayu namun sifat jenis alat musik kolintang pada hakikatnya tetap merupakan alat musik perkusif. Sifat dasar alat musik perkusif dapat dikatakan adalah cenderung keras bukan lembut. Akibat masyarakat Minahasa memang memiliki bakat musik alami luar biasa maka alat musik kolintang kayu sebagai alat musik perkusif dapat ditampilkan bukan hanya secara keras namun juga secara lembut bak angin sepoi-sepoi lembut membelai sukma.

Demi menguji coba kemampuan alat musik kolintang kayu ditampilkan secara lembut membelai sukma, saya menantang para musisi yang tergabung di ansambel kolintang Pinkan Indonesia di bawah pimpinan Rama Tirta Wowor. Lagu yang saya tantangkan untuk secara lembut membelai sukma dipergelar dengan alat musik kolintang kayu Minahasa tidak kurang dari mahakarya legendaris Johann Sebastian Bach yaitu Air yang dikomposisikan untuk orkes alat musik gesek yang memang mampu lembut membelai sukma.

Ternyata Air mahakarya Bach berhasil ditampilkan oleh ansambel kolintang Pinkan Indonesia secara bukan keras menghentak raga namun benar-benar lembut membelai sukma seolah musik yang dipergelar oleh para malaikat di surga. Saya pribadi ketika mendengar Air mahakarya Bach ditampilkan Pinkan Indonesia nyaris tidak percaya kepada telinga saya sendiri ketika disentuh sentuhan lembut membelai sukma oleh ansambel kolintang kayu Minahasa.

Kemudian saya melanjutkan tantangan kepada Pinkan Indonesia untuk mempersiapkan sebuah konser kolintang kayu Minahasa mempergelar lagu-lagu daerah dari Barat sampai ke Timur Nusantara, dari Sabang sampai Merauke. Dalam waktu tiga bulan ternyata Pinkan Indonesis berhasil memenuhi tantangan saya bahkan secara gilang gemilang sangat meyakinkan. Para musisi Minahasa dengan alat musik kolintang kayu Minahasa berhasil mempersiapkan sebuah repertoar resital kolintang meliputi lagu-lagu daerah Sumatera Utara, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Maluku, Papua, dan tentu saja Minahasa dengan anekaragam irama dan dinamika mulai dari gelegar fortissimo menghentak sukma sampai sentuhan pianissimo lembut membelai sukma.

Saya sudah menyaksikan pergelaran konser oleh berbagai musisi kelas dunia kaliber terunggul di berbagai panggung gedung kesenian paling terkemuka di planet bumi ini. Maka saya memiliki latar belakang kompetensi dan kredibilitas untuk menilai mutu pergelaran seni musik. Secara tegas saya berani menilai bahwa apa yang ditampilkan oleh Pinkan Indonesia  layak digolongkan sebagai kelas dunia sehingga layak ditampilkan di panggung gedung kesenian kelas dunia seperti misalnya Sydney Opera House di mana saya telah pernah menampilkan pergelaran wayang orang mau pun serial resital para musisi muda Indonesia berbakat kelas dunia.

Syukur Alhamdullilah, gayung bersambut bahkan pucuk dicinta ulam tiba sebab ternyata Purnomo Yusgiantoro Foundation dan Yayasan Irwan Tirta siap mendukung pergelaran konser alat musik kolintang ansambel Pinkan Indonesia dbp Rama Tirta Wowor mempergelar mahakarya lagu-lagu daerah nusantara di panggung Sydney Opera House 9 November 2016.

Pergelaran konser kolintang didukung dengan pergelaran adibusana batik sebagai mahakarya kebudayaan Indonesia yang telah diakui sebagai warisan kebudayan dunia oleh UNESCO yang ditampilkan para peragawati terkemuka seperti Enny Sukamto, Aylawati Sarwono, Chrisye Subono, Melani Subono, Kiki Sumendap dan lain-lain. Pergelaran akbar kolintang dan batik dihadiri Dubes RI untuk Australia, Nadjib Riphat Kesoema, mantan Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro dan masyarakat pencinta kebudayaan Indonesia di Sydney, Australia.

Pergelaran ditutup secara gegap-gempita, meriah dan heboh dengan tari maumere, poco-poco dan dangdut ditarikan bersama oleh segenap hadirin pergelaran akbar kolintang di panggung Sydney Opera House yang tidak kunjung ingin beranjak pulang. [***]

Penulis adalah pianis, komponis dan pembina seni musik

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA