Bayi mungil bersama sekitar 3.000 orang lainnya melakukan perjalanan berbahaya dari Libya menuju Italia dengan menyebrangi lautan menggunakan kapal nelayan.
Kapal kayu yang berukuran tidak terlalu besar itu penuh sesak. Bahkan sejumlah orang harus duduk di pinggir kapal dengan salah satu kaki terjuntai keluar, karena begitu sempitnya kapal.
Begitu yang tampak dari foto-foto yang diambil oleh Associated Press saat upaya penyelamatan para imigran oleh tim penyelamat dan misi militer yang beroperasi di wilayah perairan.
Sementara jumlah migrasi antara Turki dan Yunani telah turun secara substansial sejak Maret tahun ini, pasca selesainya kesepakatan antara Uni Eropa dan Turki, penyeberangan antara Libya dan Italia tetap tinggi.
Lebih dari 100.000 orang telah meninggalkan Afrika utara untuk menuju Italia sepanjang tahun ini.
Sebagian besar dari mereka melarikan diri dari perang dan kemiskinan di Nigeria dan Pantai Gading atau kediktatoran di Eritrea dan Gambia. Sementara yang lainnya adalah pekerja migran yang berharap mendapatkan hidup lebih baik di Libya, tetapi dipaksa untuk meninggalkan negara tersebut karena perang saudara.
Para migran di Libya kerap bekerja di kondisi yang buruk bahkan menyerupai perbudakan. Tanpa uang untuk membeli tiket pulang ke rumah, ribuan migran lebih memilih pergi ke Eropa dengan perahu nelayan daripada harus menempuh jalan pulang melalui Sahara menuju rumah mereka. Karena hal itu dinilai lebih berbahaya ketimbang perjalanan melalui Mediterania.
Selain warga Afrika, banyak juga yang merupakan warga Libya. Mereka melarikan diri dari konflik yang tengah terjadi di dalam negeri.
[mel]
BERITA TERKAIT: