Lonjakan yen tersebut merupakan yang tertinggi dalam kurun waktu dua setengah tahun terakhir.
Referendum yang tengah berlangsung di Inggris terkait keputusan hengkang tidaknya Inggris dari keanggotaan di Uni Eropa memicu permintaan yen yang semakin tinggi.
Investor merasa gelisah dengan pasar keuangan global menyusul Brexit. Pasalnya, hasil perhitungan suara sementara saat ini menunjukkan bahwa kubu "leave" atau warga Inggris yang sepakat Inggris hengkang dari Uni Eropa lebih unggul.
Akibatnya, terjadi penurunan drastis nilai tukar pound sterling dan euro. Investor mengalihkan dananya ke aset yang dinilai lebih berharga seperti yen dan emas.
Dikabarkan
Japan Times, yen 2,6 persen lebih kuat di angka 103,44 per dolar AS pada pukul 10:09 waktu Tokyo. Ini adalah kali pertama yen mencapai angka di atas 103,07 untuk pertama kalinya sejak Agustus 2014.
Namun di siang hari, nilai tukar yen semakin tinggi dan naik 5,9 persen menjadi 149,04 per pound.
Hasil akhir referendum Brexit sendiri belum bisa ditentukan karena perhitungan suara masih dilakukan. Kendati demikian, sejauh ini kubu "leave" unggul dengan presentase sekitar 51 persen.
[mel]