Begitu tudingan yang dilayangkan oleh Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif dalam tulisan yang dimuat di New York Times pada Senin (11/1).
"Setelah penandatanganan kesepakatan nuklir interim pada bulan November tahun 2013, Arab Saudi mulai mencurahkan sumber daya untuk menggalkan kesepakatan," kata Zarif.
Zarif mengklaim bahwa Arab Saudi telah mempromosikan kebencian dan sektarianisme.
"Hari ini, sebagian pihak di Riyadh tidak hanya terus menghambat normalisasi tetapi bertekad untuk menyeret seluruh wilayah ke dalam konfrontasi," tambahnya.
Diketahui bahwa kesepakatan nuklir terbaru antara Iran, Amerika Serikat dan sejumlah negara kekuatan dunia lainnya ditandatangani Juli lalu dan bisa diimplementasikan sesegera bulan ini.
"Arab Saudi tampaknya takut bahwa penghapusan layar asap dari masalah nuklir akan mengekspos ancaman global yang nyata: sponsor aktif ekstremisme kekerasan," tutupnya seperti dimuat
Reuters.
[mel]
BERITA TERKAIT: