Pasalnya, Rouhani mengakui bahwa masih banyak perbedaan pandangan dan kepentingan terkait dengan rincian soal rencana kesepakatan nuklir yang tengah dibangun Iran dan negara-negara kekuatan dunia.
Perlu dikabarkan kembali, Iran di bawah kepemimpinan Hassan Rouhani telah berupaya mengubah kebijakan nuklir negaranya. Sejak pertengahan tahun lalu, Iran berupaya mencari kesepakatan damai dengan negara-negara kekuatan dunia yang tergabung dalam P5+1 yakni Inggris, Tiongkok, Prancis, Rusia dan Amerika Serikat ditambah Jerman.
Iran dan P5+1 menghadapi batas waktu hingga 30 Juni untuk membuat kesepakatan yang secara garis besar berisi pembatasan program nuklir Iran dengan imbalan beurpa pencabutan sanksi ekonomi.
Namun dalam perkembangannya, Iran dan P5+1 masih menemukan sejumlah kendala dan selisih terkait dengan teknis perjanjian. Hal itu lah yang dinilai Rouhani sebagai bentuk tawar menawar yang menghambat proses perjanjian nuklir.
"Mereka mulai tawar-menawar, menyebabkan keterlambatan dalam negosiasi," ujarnya pada Sabtu (13/5).
Namun ia tidak secara spesifik menyebut soal apa yang dimaksudkan soal tawar-menawar itu.
"Jika pihak lain menghormati kerangka persetujuan dan tidak menambahkan tuntutan lain, perbedaan bisa diselesaikan. Tetapi jika mereka memilih jalur tawar-menawar maka dapat memperpanjang negosiasi," tandasnya seperti dimuat
AFP.
[mel]
BERITA TERKAIT: