Michael Wattimena Ingin Bukunya Jadi Rujukan Kebijakan Menteri Susi
Laporan: | Minggu, 22 Oktober 2017, 09:40 WIB
Susi Pudjiastuti dan Michael Wattimena/Dok

Anggota DPR, Michael Wattimena baru-baru ini melakukan trik jitu dalam rangka mengupayakan kemajuan pembangunan di daerah kepulauan, termasuk di Maluku yang daerah asalnya.
Michael yang sering disapa BMW memanfaatkan rapat kerja perdananya dengan Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti di Komisi IV DPR, Kamis (19/10) lalu, menyerahkan buku yang ditulisnya sendiri dengan judul "Meretes Ketertinggalan Daerah Kepulauan."
Bukan hanya kepada Menteri Susi, buku tersebut juga dibagikan kepada jajaran pejabat di KKP. Kata Michael, buku yang terbit 19 September 2014 tersebut hasil karyanya mengakhiri masa pengabdian pada periode pertama di DPR, tahun 2009-2014.
Anggota DPR dari Dapil Papua Barat ini menjelaskan bahwa bukunya itu berisi sambutan-sambutan beberapa menteri, antara lain Menteri PU waktu itu, Djoko Kirmanto, Menteri Perhubungan E.E Mangindaan dan Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal, Helmy Faisal. Selain itu ada juga sambutan dari Wakil Menteri Perindustrian, Alex Retraubun MSc yang juga putra Maluku.
Prof Retrubun di dalam sambutannya mengakui bahwa buku Meretes Ketertinggalan Daerah Kepulauan bagian dari ikhtiar, refleksi bahkan pergumulan terhadap realitas ketertinggalan daerah kepulauan dalam kawasan timur Indonesia.
''Pak Alex yang juga mantan Dirjen Kelautan, Pesisi dan Pulau-Pulau Kecil bahkan mengatakan bahwa buku saya bisa diibaratkan sebagai kitab suci daerah kepulauan,'' ujarnya.
Yang menarik, menurut pak Alex, kata Michael, isu kepulauan selama ini menjadi konsern dari akademisi dan birokrasi, tetapi seorang politisi bisa menuangkannya dalam sebuah buku yang layak dibaca. ''Ini buku perdana saya. Dalam penulisanya memang melawati berbagai tantangan namun bisa sampai ke tangan pembaca saat itu,'' ujarnya.
Nah, lanjut Michael, dirinya merasa perlu untuk memberikan buku tersebut kepada menteri Susi dengan harapan bisa menjadi referensi atau rujukan dalam pengambilan kebijakan di KKP pada dua tahun sisa Kabinet Kerja.
''Tidak ada motif apapun dalam penyerahan buku itu. Karena memang buku ini ditulis berdasarkan perjalanan saja di Senayan selama tahun 2009-2014. Ini bentuk kepedilian saya sebagai wakil rakyat dan juga salah satu anak pulau,'' ujarnya.
BMW lalu mengisahkan sedikit tentang apa yang dituliskannya dalam buku itu.
''Buku ini berisikan berbagai kebijakan secara nasional yang banyak berorientasi pada daerah kontinental, sementara daerah kepulauan terkesan tidak dapat perhatian. Padahal Indonesia adalah negara kepulauan yang telah diperjuangkan oleh Djuanda Kartawijawa pada tahun 1957 melalui deklarasi Djuanda dan diakui oleh dunia Internasional,'' urainya.
Ditambahkan, pengakuan dunia internasional bahwa Indonesia adalah negara kepulauan itu lewat PBB pada tahun 1982 dalam konferensi UNCLOS. Bahkan telah Ditetapkan dalam confensi hukum laut PBB serta telah diratifikasi lewat UU.
''Bayangkan saja, dunia internasional saja sudah mengakui negara kita adalah negara kepulauan, sementara kita sendiri tidak menerapkannya dalam kebijakan pembangunan,'' ketus dia.
Ia lalu mencontohkan dana alokasi DAU hanya berdasarkan luas daratan dan jumlah penduduk. ''Lihat, Kepri, luas daratannya hanya 5 persen sementara Maluku, 7,6 persen. Alokasi DAU kita sangat kecil, padahal kita punya wilayah yang sangat luas,'' tegas dia.
Karena itu, lanjut dia, perlu adanya afirmatif policy terhadap kekurangan yang ada pada daerah-daerah kepulauan selama ini. Menyoal apa respons menteri Susi terkait penyerahan buku itu, BMW katakan, menteri yang spektakuler itu sangat senang sekali.
''Saya berharap buku saya itu bisa menjadi bagian dari referensi dalam menyusun kebijakan-kebijakan di kementrian pada dua tahun sisa dalam kabinet,'' demikian Michael.
[wid]