Persiapan Sail Sabang Minim, Pemerintah Pusat Perlu Terlibat
Laporan: | Kamis, 03 Agustus 2017, 17:22 WIB
Foto: Humas Fraksi PKS DPR

Para wakil rakyat dari Komisi X DPR melakukan kunjungan kerja ke Provinsi Aceh.
Salah satu agenda kerja yakni meninjau persiapan Festival ‘Sail Sabang’ yang akan berlangsung pada 28 November hingga 3 Desember 2017.
Wakil Ketua Komisi X DPR, Abdul Fikri menilai festival yang akan berlokasi di Sabang, Aceh, itu hingga kini belum terlalu siap.
"Padahal pelaksanaannya 28 November sampai dengan 3 Desember 2017. Sehari sebelumnya, ada juga ada agenda besar, yaitu ‘Islamic Cruise’. Mak pemerintah pusat harus ikut campur tangan agar sukses," jelas Abdul Fikri di sela kunjungan, Selasa (1/8).
Turut serta dalam rombongan yakni wakil dari Perpusnas, Kemendikbud, Kemenpar, dan Bekraf.
Sail Sabang kali ini bertemakan ‘Sabang Menuju Gerbang Destinasi Wisata Bahari Dunia’. Tema itu diambil agar diikuti banyak event yang bertujuan untuk pengembangan kepariwisataan, seperti flying pass, diving, dan sailing pass. Bahkan, saat pembukaan, tarian kolosal Laksamana Malahayati akan dihadirkan, bersamaan dengan parade kapal laut yang berlayar dari Spanyol dan berakhir di Pantai Aceh.
Selain itu juga digelar sejumlah kegiatan pendukung, seperti Jambore IPTEK, Sabang Underwater Contest, Sales Mission Cruise Operator and Yatch, hingga bakti sosial bersih pantai.
Dalam kunker tersebut, rombongan Komisi X DPR menyempatkan berkunjung ke Museum Tsunami Aceh. Kedatangan para anggota dewan langsung disambut oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh Reza Fahlevi dan koordinator Museum Tsunami Aceh Almuniza Kamal.
Abdul Fikri menjelaskan bahwa Aceh pernah mengalami musibah tsunami terbesar di dunia. Sehingga, mestinya beberapa sektor kementerian/lembaga yang membidangi hal ini, fokus untuk menjadikan Aceh sebagai pusat riset manajemen bencana.
Di sisi lain, ia mencermati Indonesia dan beberapa negara yang rawan bencana, selama ini mengikuti pola kerja Sendai Framework dari PBB (dalam mitigasi bencana).
"Padahal ternyata bahan kajiannya dari Aceh. Tiap tahun ada peneliti dari Sendai melakukan penelitian di Aceh. Ke depan, Indonesia harusnya menjadi pusat riset manajemen bencana dunia. Jadi, kita tidak merujuk ke asing, tapi asing lah yang merujuk ke kita," papar Abdul Fikri.
[wid/***]