GEDUNG BARU DPR
Harga Tiap Ruangam Rp 800 Juta Plus Fasilitas
Laporan: Dede Zaki Mubarok | Minggu, 27 Maret 2011, 09:20 WIB
desain gedung baru dpr/ist
RMOL. Harga ruangan tiap anggota DPR ditetapkan sebesar Rp 800 juta, sudah termasuk fasilitas prasarana lainnya.
"Itu sudah termasuk kantor dan fungsinya seperti ruangan sekretariat semua itu sudah dihitung dengan segala macam ahli seperti building arsitektur, struktur
mechanical, maupun
electricalnya," kata Kepala Suku Bidang Direktorat Pengelolaan Gedung dan Rumah Negara Kementerian Pekerjaan Umum, Eko Djuli Sasongko di Jakarta, Sabtu (26/3).
Terkait harga Rp. 7,2 juta per meter, Eko menjelaskan, angka tersebut merujuk dari semakin tingginya tingkat kerumitan bangunan 36 lantai.
"Berdasarkan Kepres 42/2002, memakai perhitungan dari pemerintah daerah DKI mengenai harga permeternya sebesar 3,3 juta per meter kemudian kita turunkan menjadi 3 juta namun karena rumitnya pembangunan maka dikalikan koefisien yang ada hingga muncul angka Rp. 7.2 juta per meter," jelasnya.
Menurut Eko, pembangunan gedung harus memiliki ketentuan seperti prasyaratan pembangunan, keselamatan, ataupun kemudahan.
"Kalau bicara ruangan biasa yang tidak memakai AC dan lampu paling-paling 2-3 juta permeter," jelasnya.
Dia menambahkan, untuk pencahayaannya pun bukan memakai lampu biasa tetapi lampu yang memenuhi syarat untuk bangunan tinggi artinya, apabila tiba-tiba mati tentu secara otomatis akan terhubung ke genset dan
power emergency.
"Kalau saya lihat wartawan hanya melihat angkanya semata, padahal yang memanfaatkan tidak DPR saja. tetapi seluruh sekretariatnya," paparnya.
Eko memaparkan, bangunan gedung baru DPR nanti akan dibangun seefisien mungkin tanpa meninggalkan kenyamanan sehingga anggota maupun staf dapat bekerja lebih produktif.
"Ini termasuk sudah efisien, gedung biasanya delapan lantai. kalau 36 lantai secara istimewa harus memiliki sistem pendukung yang mampu mencegah bencana seperti kebakaran, sistem AC maupun detektor ini sudah termasuk biaya dan keselamatan," lanjutnya.
Dia mengharapkan, melalui proses lelang diharapkan dapat memperoleh harga terbaik dan efisien.
"Kalau ada lonjakan harga tidak membuat kontraktor pusing karena memang angka real kalau lunsum harus mengira-ngira inflasi berapa,"paparnya.
Menyinggung jumlah ruangan baru nanti, Eko menjelaskan, semuanya akan tergambar setelah adanya value engineering nantinya.
[wid]