Adalah dua murid Binus School yang memainkan alat musik tersebut, Fania Muthia dan Elifia Muthia. Kedua alat musik terlihat begitu besar dibandingkan pemainnya. Fania kelas 10 (kelas 1 SMA) dan Elifia kelas 8 (kelas 2 SMP). Fania memetik Harpa, Elifia menggosok Cello.
Alunan musik tersebut merupakan pembuka acara Seminar Child Domestic Abuse (Kekerasan Anak dalam Rumah Tangga) dan Harp Healing Performance di Suhanna Hall, The Energy Building, SCBD Sudirman, Minggu (8/11).
Seminar merupakan bagian dari Personal Project Fania Muthia. Pembicara yang hadir Prof. Muladi, SH (Guru Besar Hukum Pidana dan Praktisi Hukum), Prof. Seto Mulyadi (Ketua Umum Komnas Anak), Susanto (Wakil Ketua KPAI), Kompol Mumuh Saepulloh, SH (Kanit PPA Polda Metro Jaya) dan Heidy Awuy (Harpist Indonesia). Semua pembicara adalah narasumber Fania dalam Project Personalnya.
Dijelaskan Fania, dia sangat prihatin banyak kasus kekerasan terhadap anak membuat dia prihatin. Sebagai anak yang masih berumur 15 tahun, dia merasa tidak bisa berbuat apa-apa.
"Saya masih anak-anak, masih 15 tahun. Melihat anak-anak yang meninggal karena kekerasan, atau menjadi korban kekerasan, kasihan banget. Tapi saya tidak bisa ngapain-ngapain," ujarnya.
Karena itu, dia ingin berbuat sesuatu yang baru untuk Indonesia, khususnya terhadap anak yang menjadi korban kekerasan. Dan dengan musik Harpa yang diciptakannya, dia berharap bisa membantu anak-anak di Indonesia bebas dari tindak kekerasan.
"Saya memillih musik Harpa untuk campaign (anti kekerasan terhadap anak) sekaligus healing," ujarnya,
Ada dua hal yang dilakukannya untuk tujuan tersebut: pertama melakukan penelitian atas kekerasan terhadap anak baik di rumah maupun di lingkungan/sekolah. Kedua, menghadirkan musik (dari alat music Harpa) yang berperan sebagai healing (meredam kekerasan) dalam rumah tangga.
Dalam penelitiannya, Fania menemukan 13 ribu lebih kasus kekerasan terhadap anak. Sementara data dari Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, ada 15.648 kasus kekerasan sejak tahun 2010. Ini sungguh menyakitkan bagi anak,†ujar Fania.
Di bawah bimbingan Harpist Indonesia terkenal, Heidy Awuy, Fania mengeluarkan satu CD berisi lima lagu. Tiga lagu adalah ciptaan Fania sendiri, dan dua lagu hasil gubahan atas lagu yang familiar di telinga masyarakat Indonesia. Setiap peserta seminar mendapatkan CD secara cuma-cuma.
Dijelaskan Fania, musik menghadirkan perasaan lebih tenang dan rilek bagi pendengarnya. Musik yang indah dan anggun membantu meredam emosi tinggi dan rasa marah, yang merupakan salah satu sebab bagi kekerasan terhadap anak dalam rumah tangga.
Fania memainkan lima musik gubahannya di acara Seminar. Dua lagu berduet dengan adiknya Elifia, dua lagu secara solo, dan satu lagu berduet dengan sang mentor, Heidy Awuy. Good Job Fania!
[dem]