Sekretaris Jenderal Organda Andriansyah mengatakan, tarif angkutan dalam kota akan naik 35 persen antara Rp 750-Rp 1.250, sedangkan kenaikan tarif angkutan antar kota naik 30 pesen jika BBM subsidi jadi dinaikkan.
“Tarif angkutan yang awalnya Rp 2.000 jadi Rp 2.750, tarif Rp 3.000 menjadi Rp 4.000 serta tarif Rp 4.000 menjadi Rp 5.250. Sementara besaran kenaikan tarif angkutan antar kota tergantung jarak,†ujarnya di Jakarta, kemarin.
Andriansyah mengatakan, perbedaan kenaikan tarif tersebut didasarkan pada besaran kenaikan harga BBM subsidi Rp 2.000 untuk premium dan solar Rp 1.000 per liter.
Angkutan dalam kota seperti angkot, metromini, kopaja dan taksi yang menggunakan premium, kenaikan tarifnya akan lebih besar dibanding angkutan antar kota yang pakai solar.
Pihaknya telah menghitung matang besaran tarif tersebut yang disesuaikan dengan kenaikan harga subsidi BBM demi menyelamatkan kelanjutan bisnis perusahaan jasa angkutan umum.
Selain BBM, penyesuaian tarif juga harus dilakukan perusahaan jasa angkutan umum akibat meningkatnya harga suku cadang. Namun, Andriansyah memastikan pihaknya akan mulai memberlakukan penyesuaian tarif angkutan dalam maupun antar kota pasca keputusan kenaikan harga BBM diumumkan pemerintah.
Sekadar informasi, pemerintah berencana menaikkan harga BBM subsidi Rp 2.000 per liter untuk jenis premium dan solar Rp 1.000 per liter dapat direalisasikan minggu ketiga Juni.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo mengakui, kenaikan harga BBM bersubsidi bakal diikuti lonjakan tarif angkutan umum. Menurut dia, Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) akan mengalami kenaikan tarif 1,16 persen. Sementara angkutan antar kota naik 19 persen.
Menurutnya, kenaikan tarif angkutan tersebut merupakan dampak tidak langsung dari kenaikan harga BBM bersubsidi. “Organda sudah memperhitungkan kan ada kenaikan, termasuk tarif taksi juga,†jelasnya.
Pengusaha Catering Ikut Naikkan HargaPara pengusaha jasa catering merasa tidak keberatan terhadap rencana pemerintah yang akan menaikkan harga BBM subsidi.
CEO PT Cultureroyale Indonesia Alvert L Buntara mengatakan, sudah saatnya pemerintah menjalankan kebijakan tersebut. Jika ditunda lagi, jumlah subsidi akan semakin membengkak dan membebani keuangan negara.
Namun, dia meminta pemerintah mengalokasikan subsidi BBM tersebut tepat sasaran dan tidak dikorupsi. Menurutnya, penyaluran subsidi selama ini yang dilakukan pemerintah salah kaprah. Subsidi bukannya dinikmati rakyat miskin, tapi yang mampu membeli mobil.
“Ekonom dan pengusaha mana pun akan setuju jika pemerintah menaikkan harga BBM. Ini sebuah keharusan. Jika ditunda akan semakin babak belur perekonomian Indonesia,†ujarnya.
Dia menegaskan, para pengusaha catering sangat berkepentingan dengan rencana kenaikan BBM tersebut. Sebab, kenaikan itu akan mempengaruhi anggaran belanja bahan-bahan mentah untuk menu makanan yang disajikan.
Selama ini, dalam industri jasa catering, alokasi dana untuk keperluan logistik dan transportasi bisa mencapai 30-40 persen dari dari alokasi dana operasional setiap bulannya. Nah, jika harga BBM naik, mereka akan memasukkan kenaikan itu dalam komponen harga catering yang harus ditanggung pelanggan.
“Kami juga akan menaikkan harga catering. Ini tidak bisa dihindari,†tegas Alvert.
Direktur Slim Gourmet Kenneth Atman mengaku tidak ada yang bisa dilakukan kecuali mengikuti kebijakan pemerintah tersebut. “Kami sebagai pengusaha hanya bisa mengikuti kebijakan tersebut,†ujar Kenneth.
Sebab itu, dia juga tidak bisa menghindari perusahaannya mengeluarkan kebijakan menaikkan harga catering. [Harian Rakyat Merdeka]
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google