Seperti halnya SPBG di Sidoarjo, Jawa Timur, yang pengoperasiannya mengalami penundaan karena Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik tidak bisa hadir meresmikan. Padahal, SPBG tersebut mesti dioperasikan secepatnya guna menambah infrastruktur konversi yang masih sangat minim.
Dirjen Migas Kementerian ESDM Edy Hermantoro mengaku peresmian pengoperasian SPBG di Sidoarjo sebenarnya dijadwalkan Kamis (30/5) tapi ditunda.
“Pak menteri mesti menghadiri rapat kerja pembahasan subsidi listrik RAPBN Perubahan 2013 dengan Komisi VII DPR,†kata Edy.
SPBG yang dibangun dengan dana APBN oleh Kementerian ESDM tersebut nantinya akan diserahkan ke PT Pertamina sebagai penyertaan modal pemerintah untuk selanjutnya dioperasikan. Pasokan gas berasal dari PT Perusahaan Gas Negara (PGN).
SPBG di Sidoarjo, satu dari empat stasiun gas yang dibangun di Jawa Timur pada 2012. Tahun ini Kementerian ESDM akan membangun empat SPBG lagi dengan anggaran Rp 114 miliar di Kalimantan Timur. Sedangkan pada 2011 sudah terbangun 4 SPBG di Palembang.
Edy mengatakan, di luar itu sejumlah infrastruktur SPBG dan pipa gas juga akan dibangun di Jakarta. Misalnya, Pertamina akan membangun tujuh unit dengan dana sendiri dan enam unit oleh PGN. “Sebagian diantaranya berupa MRU (Mobile Refueling Unit atau SPBG bergerak),†katanya.
Selanjutnya, dengan dana APBN 2013 sebesar Rp 574 miliar juga akan dibangun 5
SPBG dan pipa distribusi sepanjang 22,2 kilometer. Ruas pipa mencakup Beji-Ragunan, Ragunan-Lebak Bulus dan Fatmawati-Blok M. Dari jaringan pipa itu, akan menjadi lokasi SPBG yang bisa dibangun BUMN atau swasta. Proyek APBN tersebut ditargetkan beroperasi bertahap mulai kuartal ketiga 2013.
Wakil Ketua Komisi VI DPR Aria Bima menilai program konversi BBM ke BBG tidak jelas. Dia mempertanyakan program yang digagas oleh Kementerian ESDM itu.
“Penyediaan conveter kit (alat konversi) ini serius nggak sih. Yang menonjol itu kenaikan BBM bukan converter. Saya tidak mengerti tujuan program ini, kalau tidak serius ya hapus saja,†kata politisi PDIP ini.
Aria juga mempertanyakan infrastruktur penunjang seperti SPBG yang disediakan Pertamina. Ia menilai, program pergantian bahan bakar kendaraan umum dari minyak ke gas belum siap.
Sekretaris Direktorat Jenderal (Sesditjen) Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Syarief Hidayat mengungkapkan, beberapa perusahaan sudah siap melakukan pembuatan converter kit. Namun, mereka juga meminta kepastian apakah program ini berjalan apa tidak, termasuk pasokan gasnya.
“Yang sudah kita siapkan ada PT Pindad, PT Wijaya Karya Tbk, itu dua yang utamanya. Mereka juga sudah siap tetapi dengan belum pastinya anggaran mereka menunggu dulu,†ungkapnya. [Harian Rakyat Merdeka]
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google