Produksi Gas Nasional Gagal Dimanfaatkan Industri Lokal

Terhadang Buruknya Infrastruktur, Peran Swasta Perlu Diperkuat

Kamis, 09 Mei 2013, 09:11 WIB
Produksi Gas Nasional Gagal Dimanfaatkan Industri Lokal
ilustrasi
rmol news logo Pemerintah mengaku peningkatan distribusi penyaluran gas untuk dalam negeri masih terkendala kesiapan infrastruktur.

Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas (SKK Migas) Rudi Rubiandini menegaskan, peningkatan distribusi gas untuk kebutuhan dalam negeri masih menunggu kesiapan infrastruktur yang dibangun perusahaan milik negara maupun perusahaan swasta.

Menurutnya, gas LNG (liquefied natural gas) sudah disiapkan. Mulai dari LNG di Arun di Lampung, Jawa Barat, Banten maupun Jawa Tengah sudah dialokasikan untuk dalam negeri.

“Jangan khawatir, asal infrastruktur ada gas sudah bisa dialirkan ke dalam negeri,” kata bekas Wakil Menteri ESDM ini.

Rudi menjelaskan, pembangunan infrastruktur tidak harus dilakukan pemerintah, tetapi dapat juga dilakukan swasta. Saat ini infrastruktur sedang dibangun oleh Pertamina, PGN maupun swasta.

Selain itu, lapangan-lapangan gas baru juga sedang disiapkan untuk mendukung ketersediaan pasokan gas untuk dalam negeri maupun kepentingan ekspor.  

“Proyek Donggi Senoro rencananya dimulai tahun ini, kemungkinan semester dua. Yang satu lagi baru mulai sekitar 2-3 tahun mendatang,” jelas Rudi.

Potensi produksi gas nasional, kata dia sangat menjanjikan. Hal ini terlihat dari produksinya yang terus meningkat.

“Produksi gas kita yang zaman dulunya tidak ada, sekarang sudah melebihi minyak,” klaimnya.

Produksi gas mendekati ekuivalen 1,2 juta barel oil. Jadi kalau dijumlahkan minyak dan gas, kira-kira sudah sekitar 2 juta barel minyak ekuivalen per hari. Sementara minyak hanya 840 ribu barel per hari.

Untuk itu, pihaknya akan menyiapkan peta jalan untuk pengembangan gas alam nasional sehingga di tahun mendatang produksinya lebih optimal. Pembangunan infrastruktur pipa gas tambahan dengan menggunakan mekanisme open access  juga mendesak direalisasikan guna mendukung pertumbuhan industri di dalam negeri.

Dirjen Basis Industri Manufaktur Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Panggah Susanto mengatakan, pembangunan industri yang berdaya saing tinggi sangat bergantung pada ketersediaan bahan baku dan energi.

“Pemanfaatan gas sebagai bahan baku dan energi menjadi faktor kunci kegiatan operasi manufaktur,” katanya.

Data Kemenperin memperlihatkan kebutuhan gas bumi untuk industri saat ini mencapai 2.130 Million Standard Cubic Feet per Day (MMSCFD).

“Penggunaan mekanisme open access ini mendesak dilakukan karena banyak investor yang mengantre masuk di industri tetapi pasokan gas masih terbatas,” tandasnya. [Harian Rakyat Merdeka]
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA