Gunakan LSM, Persaingan Industri Kertas Tidak Sehat

Kampanye Hitam Soal Lingkungan Harus Ditangkal

Selasa, 12 Juni 2012, 08:21 WIB
Gunakan LSM, Persaingan Industri Kertas Tidak Sehat
ilustrasi, Industri Kertas
RMOL.Tidak tahan terus diserang dengan isu perusakan lingku­ngan, Kementerian Kehutanan siap meng­hadapi kampanye hi­tam pegiat lembaga swadaya masya­rakat (LSM) asing terkait isu kehutanan untuk menjatuh­kan citra Indonesia di mata in­ter­na­sional.

Direktur Jenderal Perlin­du­ngan Hutan dan Kon­ser­vasi Alam Kementerian Kehu­tanan Darori menegaskan,“Bo­leh saja ka­la­ngan LSM melon­tarkan kri­tik dan sa­ran, tetapi hal itu harus di­la­­ku­kan secara ber­tanggung­ jawab.”

Selain itu, katanya, LSM asing yang beroperasi di Indonesia ha­rus sesuai ketentuan hukum di In­do­­nesia. “Pernah ada NGO (non government organization) me­ngaku menemukan kuku hari­mau di toko emas dan disiar­kan di seluruh dunia. Mereka juga me­­nuduh Indonesia tidak concern dengan harimau. Saya katakan jika dalam waktu 1 x 24 jam tidak me­ning­galkan Indone­sia, akan saya tangkap. Malam harinya me­reka kabur,” ujarnya.

Dikatakan, ada pula ke­giat­an ilegal LSM asing yang me­ngaku me­nerima dana Rp 75 mi­liar un­tuk membangun suatu daerah.

Namun, ternyata setelah di­cek, dananya justru di­salah­gu­nakan. Uang yang dipakai ha­nya untuk membangun satu ge­dung dengan nilai Rp 1 miliar dan bu­kan Rp 75 miliar.

Darori men­si­nyalir gen­carnya tekanan-teka­nan LSM asing ke­pada Indo­nesia serta industri pulp dan kertas na­sional, tidak lepas dari per­saing­an da­gang. Karena itu, dia meng­im­bau para pengu­saha agar mela­ku­kan per­saingan dagang secara sehat.

“Pernah ada berita kalau Asia Pulp & Paper (APP) merusak hu­tan, sampai kertas-kertas tisu kita pun ditolak. Saya jelaskan alasan­nya dan bahkan ketika saya cek ke lokasi hutan yang di­duga diru­sak, ternyata belum tersentuh. Ini fakta bahwa dalam dunia perda­gangan mungkin ada per­sai­ngan,” ujarnya.

Sedangkan Ketua Asosiasi Pe­ngusaha Indonesia (Apindo) Sof­jan Wanandi mengatakan, jika melihat sejarah kehutanan di In­donesia, kontribusi terbesar ke­rusakan hutan justru disum­bang investor Amerika Serikat, Je­pang, Korea, dan Taiwan. Mere­ka ada­lah in­vestor pertama di bidang ke­hu­tanan Indonesia.

“Kita (pe­ngusaha Indonesia) yang harus cuci piring akibat ke­rusakan hu­tan. Ironisnya pada saat ini justru kita yang dimaki-maki LSM-LSM asing bahwa kita yang merusak hutan. Me­ngapa mereka tidak teriak-teriak dari dulu,” cetusnya. [Harian Rakyat Merdeka]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA