Karena itu, Asosiasi Perusahaan Nasional Telekomunikasi (ApnaÂtel) akan membahas hal itu dalam Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) Apnatel yang akan diÂgelar pada 20-21 NovemÂber 2010 nanti.
Pelaksana tugas Ketua Umum Apnatel Riad Oscha Chalik meÂngatakan, permasalahan tower asing tersebut akan dibicarakan dengan DPR. Pihaknya mengaku tidak bisa melarang masuknya inÂvestasi asing, namun porsi meÂreka harus proporsional.
“Apnatel itu anggotanya baÂnyak, termasuk Telkom dan peruÂsahaan tower. Namun saat ini justru banyak perusahaan asing yang masuk ke Indonesia dan membangun tower. Asing itu boÂleh-boleh saja masuk, tetapi jaÂngan mematikan pengusaha naÂsional. Harus ada sinergitas dan tidak boleh memonopoli atau mayoritas,†kata Riad saat dihuÂbungi
Rakyat Merdeka di JaÂkarta, kemarin.
Dia mencontohkan, investor Amerika masuk ke bisnis tower melalui PT Tower Bersama InfraÂstructure Tbk. Menurut Riad, proÂyek tower itu mirip pekerÂjaan tuÂkang, karena itu mestinya diÂseÂrahkan ke investor lokal saja. Hal ini berbeda dengan teknologi sateÂlit yang masih dipegang asing kaÂrena Indonesia belum menguasai.
“Kepemilikan Tower Bersama itu di belakangnya Amerika yang kini sudah memiliki tower 2.000-3.000 tower di dalam negeri. PadaÂhal tadinya kan Saratoga yang mau masuk. Ini proses akal-akalan saja. Belum lagi bicara
local conÂtent, kapan Indonesia bisa bangkit kalau semua barang dari impor,†katanya seraya meÂnambahkan, mayoritas tower yang digarap asing itu seÂjeni
s base transÂceiver station (BTS).
Dalam perkembangannya, kini Apnatel juga sebagai pembuat Sertifikat Badan Usaha (SBU) sebagai mitra pemerintah yang berdiri sejak 1978. Dengan peÂngaÂlaman yang dimiliki Apnatel, maka pihaknya akan memperÂjuangkan pengusaha nasional di industri telekomunikasi. Asing, lanjut dia, boleh saja menguasai, tetapi harus hati-hati. Sehingga, harus ada
poliÂtical will dari peÂmerintah. Belum lagi semua opeÂrator teleÂkomunikasi saat ini suÂdah dikuaÂsai asing. “Ini akal-akalan apa lagi,†tanya Riad.
Terkait, industri pembangunan tower, katanya, saat ini sudah bisa dilaÂkukan oleh pengusaha naÂsional, bukan cuma asing.
[RM]
BERITA TERKAIT: