RMOL.Carrefour menjamin tetap akan bercokol di Indonesia meski di beberapa negara Asia, peritel modern asal Prancis ini menyatakan siap hengkang.
Public Affairs Manager PT Carrefour Indonesia Satria HaÂmid Ahmadi mengatakan, kabar Carrefour akan hengkang tidak benar. Apalagi CarÂreÂfour di IndoÂnesia sudah beÂkerja sama dengan perusahaan lokal, Para Group pimpinan ChaÂirul Tanjung.
“Kita percaya, kerja sama deÂngan perusahaan lokal sifatnya jangka panjang. Jadi kalau di InÂdonesia tidak masuk akal jika Carrefour akan hengkang,†kata Satria saat dihubungi Rakyat MerÂdeka di Jakarta, kemarin,
Menurutnya, Carrefour di MaÂlaysia, Singapura dan Thailand akan tetap ada. Namun untuk meÂngembangkan bisnis, piÂhak CaÂrreÂfour akan mencari mitra straÂtegis seperti di Indonesia yaÂng beÂkerja sama dengan Para Group.
Saat ini Para Group tengah maÂÂÂÂsuk dalam daftar tender pemÂbelian. Chairul melalui bendera PaÂra Group, menguasai seÂkitar 40 persen saham PT CarreÂfour IndoÂnesia.
DiÂsinggung soal porsi saÂham CarreÂfour Malaysia yang mampu dikuasai Para Group, Satria beÂlum menyeÂbutÂkan. NaÂmun, bila menÂjadi peÂmilik mayoÂritas, hal itu tentu lebih baik.
Satria berharap pangsa pasar Carrefour di Indonesia meÂningÂkat. Apalagi, populasi penduÂduk InÂdoÂnesia terbesar di Asia TengÂgara, yakni lebih dari 220 juta jiwa.
Badan Koordinasi PenanamÂan Modal (BKPM) juga yakin CarÂreÂfour tidak akan hengkang dari InÂdonesia. Kepala BKPM Gita WirÂyawan mengungkapÂkan, CaÂrrefour Indonesia tidak mengÂinÂdikasikan niat hengkang dari dalam negeri.
Sebelumnya, rencana CarreÂfour untuk keluar dari pasar Asia Tenggara memanaskan penawaÂran waralaba supermarket asal Prancis itu. CarreÂfour berencana unÂtuk melepas bisnis superÂmarÂketnya di Thailand, Malaysia dan Singapura karena gagal meÂraÂih posisi dominan. Seperti diÂkuÂtip dari Thailand Business News, Carrefour sulit bersaing deÂngan Tesco, waralaba Inggris.
Kurang Sehat
SebeÂlum ada putusan Komisi PengÂawas PerÂsaingan Usaha (KPÂPU) bahwa pangsa pasar CarÂrefour di pasar ritel naÂsional lebih dari 50 persen. SeÂmenÂtara pihak CarÂrefour mengÂklaim hanya 17 persen.
Ketua Umum Asosiasi PenguÂsaha Ritel Indonesia (Aprindo) Tutum Rahanta menyatakan, perÂÂsaingan bisnis usaha ritel saat ini kurang sehat. Karena masing-maÂsing peritel modern masuk daÂlam wilayah usaha yang seÂlama ini justru ada peritel lain.
Seperti Lotte Mart yang maÂsuk di wilayah Gandaria, Jakarta SeÂlatan. Padahal, di daerah itu sudah ada Carrefour, HyÂperÂmart dan Giant. “PertumÂbuÂhan hyperÂmarÂket di Indonesia menÂcapai lima persen per tahun,†pungkasnya. [RM]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: