Pemanfaatan teknologi membuka peluang bagi perempuan tani untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menekan biaya pertanian.
Di Batam, Kepulauan Riau, penerapan sistem pertanian cerdas berbasis sensor dan Internet of Things (IoT) dalam budidaya cabai berhasil mengurangi penggunaan pupuk hingga 50 persen.
Program yang dikembangkan Perempuan Tani Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) tersebut berlangsung selama sekitar delapan bulan di Nongsa dan Barelang. Kegiatan ini mencakup pengelolaan lahan seluas sekitar 3 hektare dengan melibatkan 20 perempuan tani sebagai penerima manfaat.
Ketua Umum Perempuan Tani HKTI, Dr. Dian Novita Susanto, S.H., M.Sos., mengatakan program tersebut menjadi upaya mendorong perempuan mengambil peran lebih besar dalam sektor pertanian, bukan hanya sebagai pelaku produksi, tetapi juga pengelola dan pengambil keputusan dalam usaha agribisnis.
“Program ini membuktikan bahwa perempuan tani memiliki potensi besar untuk menjadi bagian dari transformasi pertanian Indonesia. Kita ingin perempuan tidak hanya menjadi pelaku dalam proses produksi, tetapi juga menjadi pengambil keputusan, pengelola usaha, dan inovator dalam agribisnis,” ujar Dian dalam keterangannya yang dikutip redaksi di Jakarta, Minggu 1 November 2026.
Inisiatif yang mendapat dukungan Wonder Ladies dari China ini merupakan bagian dari program Environmental, Social, and Governance (ESG). Pelaksanaannya menggabungkan pemberdayaan ekonomi perempuan, pemanfaatan teknologi, dan praktik budidaya yang lebih efisien serta ramah lingkungan.
Salah satu pendekatan utamanya adalah penggunaan sensor dan IoT untuk memantau kondisi lahan serta kebutuhan tanaman cabai. Teknologi ini membantu petani menentukan kebutuhan input pertanian secara lebih terukur sehingga penggunaannya tidak berlebihan.
Efisiensi tersebut tidak hanya mendukung pertanian ramah lingkungan, tetapi juga berpotensi menekan biaya produksi. Di sisi lain, perempuan tani memperoleh pengalaman menggunakan teknologi untuk memantau dan mengelola kegiatan budidaya.
Dian mengatakan penguasaan teknologi menjadi bagian penting dalam meningkatkan kemampuan perempuan tani menghadapi perkembangan sektor pertanian.
“Melalui pemanfaatan teknologi, kita dapat meningkatkan efisiensi produksi sekaligus menjaga lingkungan. Yang paling penting, perempuan tani memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan kesempatan untuk meningkatkan pendapatan serta kemandirian ekonominya,” katanya.
Selain pengenalan teknologi, sebanyak 20 perempuan tani juga memperoleh pelatihan dan pendampingan mengenai manajemen usaha, perencanaan produksi, serta tata kelola agribisnis cabai. Pembinaan tersebut mencakup pengelolaan usaha mulai dari budidaya hingga pengembangan peluang pendapatan.
Dengan bekal tersebut, perempuan tani diharapkan mampu menjalankan usaha secara lebih produktif dan mandiri. Pemberdayaan pun tidak berhenti pada akses terhadap lahan dan kegiatan produksi, tetapi diperkuat melalui pengetahuan, keterampilan manajerial, dan kemampuan mengembangkan usaha.
Program pertanian cerdas ini juga sejalan dengan sejumlah agenda Sustainable Development Goals (SDGs), mulai dari pengentasan kemiskinan, ketahanan pangan, kesetaraan gender, hingga pertumbuhan ekonomi.
Pemanfaatan teknologi dan efisiensi penggunaan pupuk turut mendukung inovasi pertanian serta praktik produksi yang lebih bertanggung jawab. Dalam kerangka ESG, program ini menggabungkan aspek lingkungan melalui penghematan input pertanian, aspek sosial melalui peningkatan kapasitas perempuan, dan tata kelola melalui penguatan manajemen usaha.
Setelah diterapkan di Batam, Perempuan Tani HKTI berencana memperluas model pemberdayaan berbasis teknologi tersebut ke daerah lain. Yogyakarta menjadi salah satu wilayah yang disiapkan sebagai lokasi pengembangan berikutnya.
Perluasan program akan disesuaikan dengan potensi komoditas, karakteristik wilayah, dan kebutuhan perempuan tani setempat. Selain memperkenalkan teknologi, pengembangan ini diarahkan untuk membangun ekosistem agribisnis yang terintegrasi, mulai dari produksi, pengelolaan usaha, hingga peningkatan nilai ekonomi hasil pertanian.
Dian berharap model pemberdayaan yang dikembangkan di Batam dapat diterapkan di berbagai daerah sehingga manfaatnya menjangkau lebih banyak perempuan tani.
“Kami berharap model yang telah dikembangkan di Batam ini dapat direplikasi di berbagai daerah di Indonesia. Karena ketika perempuan tani berdaya, dampaknya bukan hanya dirasakan oleh perempuan itu sendiri, tetapi juga keluarga, masyarakat, dan pembangunan ekonomi daerah,” tuturnya.
Melalui program ini, Perempuan Tani HKTI mendorong transformasi pertanian yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga pemanfaatan teknologi, keberlanjutan lingkungan, dan penguatan peran perempuan dalam agribisnis.