Berita

Representative Image (Foto: AI)

Global

Kabut Asap Picu Lonjakan Penjualan Tabung Oksigen dan Air Purifier di Asia Tenggara

MINGGU, 18 OKTOBER 2026 | 16:04 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Kabut asap beracun akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia memicu lonjakan permintaan tabung oksigen dan alat pemurni udara (air purifier) di sejumlah negara Asia Tenggara. 

Perusahaan peralatan medis AA Alive yang berbasis di sekitar Kuala Lumpur, Malaysia, mencatat peningkatan penjualan tabung oksigen sebesar 35 persen akibat kabut asap. 

Anggota tim penjualan AA Alive, Rafina Firdaus, mengatakan perusahaan kini bekerja dengan kapasitas penuh untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. 


“Kami telah melihat peningkatan penjualan sebesar 35 persen karena kabut asap,” kata Rafina kepada AFP, dikutip Minggu, 18 Oktober 2026.

AA Alive memasok tabung oksigen dan konsentrator oksigen bagi pasien yang membutuhkan bantuan pernapasan. Tabung oksigen dapat digunakan selama sekitar tiga jam secara terus-menerus, sedangkan konsentrator oksigen dapat beroperasi hingga sekitar 24 jam. 

Lonjakan polusi juga mempercepat penurunan masa pakai filter konsentrator oksigen. 

Teknisi AA Alive, Mubassar Khan mengatakan polutan kabut asap membuat masa pakai filter yang biasanya diganti setelah 1.000 jam penggunaan berkurang hingga setengahnya. 

Meski permintaan meningkat, perusahaan mengaku masih mampu memenuhi kebutuhan karena telah menghadapi kondisi serupa setiap tahun.

Sementara itu, peritel elektronik regional Courts melaporkan volume penjualan air purifier melonjak 600 persen pada periode 28 September hingga 12 Oktober dibandingkan periode yang sama tahun lalu. 

“Pelanggan semakin sadar akan kualitas udara dalam ruangan dan secara aktif mencari solusi untuk menjaga lingkungan rumah yang lebih sehat dan nyaman,” kata juru bicara Courts.

Lonjakan serupa terjadi di Singapura. Peritel Gain City menyebut penjualan air purifier meningkat hingga sembilan kali lipat dibandingkan awal musim kabut asap pada Agustus, dengan lonjakan tajam sejak 9 Oktober. 

Peningkatan permintaan ini mencerminkan kekhawatiran masyarakat terhadap kualitas udara di dalam ruangan ketika kabut asap menyelimuti kawasan.

Pakar kesehatan lingkungan Universiti Putra Malaysia, Juliana Jalaludin, memperingatkan bahwa paparan polutan kabut asap berkepanjangan dapat memicu peradangan dan meningkatkan risiko gangguan pernapasan, terutama pada anak-anak. 

Juliana menekankan pentingnya mengurangi paparan sejak dini untuk mencegah dampak kesehatan jangka panjang. 

“Kuncinya adalah mengurangi paparan sekarang untuk melindungi kesehatan anak-anak dan mencegah konsekuensi jangka panjang bagi generasi mendatang,” tegas Juliana.

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

AXA Mandiri Financial Digugat ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 17:59

Menteri Pigai Keliling SPBU: Hari Ini Distribusi BBM Bali Aman!

Minggu, 18 Oktober 2026 | 17:35

AS Ultimatum Iran: Patuhi Kesepakatan Nuklir atau Hancur

Minggu, 18 Oktober 2026 | 17:26

Bareskrim dan BNN Obok-Obok Kelab Malam, Sembilan Orang Positif Narkoba

Minggu, 18 Oktober 2026 | 17:17

Wali Kota Prancis Dipukuli Warga Israel di Tepi Barat

Minggu, 18 Oktober 2026 | 16:45

Masyarakat Diimbau Tingkatkan Kesadaran dan Partisipasi dalam Pencegahan Karhutla

Minggu, 18 Oktober 2026 | 16:42

Kabut Asap Picu Lonjakan Penjualan Tabung Oksigen dan Air Purifier di Asia Tenggara

Minggu, 18 Oktober 2026 | 16:04

Perlu Sistem Pencegahan Karhutla agar Warga Tak Terus Jadi Korban

Minggu, 18 Oktober 2026 | 15:51

Syarikat Islam Didorong Jadi Kekuatan Besar Ekonomi Umat

Minggu, 18 Oktober 2026 | 15:26

KPK Evaluasi Alasan Nusron Wahid Mangkir Sebelum Terbitkan Surat Perintah Membawa

Minggu, 18 Oktober 2026 | 15:11

Selengkapnya