Ilustrasi (RMOL/Reni Erina)
Lonjakan harga minyak dan bayang-bayang inflasi membuat investor Wall Street lebih berhati-hati mengawali pekan ini, terutama menjelang rilis laporan keuangan bank-bank besar dan data ekonomi Amerika Serikat (AS) yang berpotensi menentukan arah pasar.
Pada penutupan perdagangan Senin, 12 Oktober 2026, waktu setempat, indeks Dow Jones Industrial Average naik 195,60 poin atau 0,38 persen ke level 51.850,55. Sebaliknya, S&P 500 turun tipis 0,06 persen ke 7.807,24, sedangkan Nasdaq Composite melemah 0,44 persen ke 27.245,90. Tekanan paling besar terlihat pada saham teknologi, terutama produsen semikonduktor.
Indeks saham semikonduktor Philadelphia (SOX) anjlok 2,7 persen setelah sempat menyentuh level terendah dalam tiga pekan. Sektor teknologi secara keseluruhan turun 0,9 persen, sementara saham konsumer nonprimer melemah 0,7 persen. Di sisi lain, sektor energi menguat 1,5 persen dan menjadi sektor dengan kinerja terbaik di antara 11 sektor utama S&P 500, seiring kenaikan harga minyak.
Saham sejumlah perusahaan bergerak berlawanan arah. Microsoft naik 1,1 persen setelah mengumumkan rencana penggunaan chip kecerdasan buatan (AI) buatannya sendiri dalam skala besar, sehingga kapitalisasi pasarnya kembali menembus US$4 triliun untuk pertama kalinya dalam setahun. Salesforce menguat 2 persen setelah BofA Global Research menaikkan rekomendasi sahamnya menjadi buy dari underperform. Sementara itu, saham Chipotle Mexican Grill turun 3,8 persen setelah Starbucks menyatakan tidak akan mengakuisisi jaringan restoran burrito tersebut.
Pelaku pasar juga mencermati kenaikan harga minyak berjangka setelah serangan mematikan di Bandara Internasional Riyadh, Arab Saudi, pada akhir pekan. Kenaikan harga energi memperbesar kekhawatiran bahwa inflasi AS bisa kembali menguat, terutama ketika imbal hasil obligasi pemerintah AS sebelumnya telah naik ke level tertinggi dalam 24 tahun. Pasar obligasi AS tutup pada Senin karena peringatan Hari Columbus.
Pekan ini, perhatian investor tertuju pada laporan keuangan kuartal III dari bank-bank besar AS, termasuk JPMorgan Chase, Citigroup, dan Goldman Sachs, yang mulai dirilis pada Selasa. Data inflasi konsumen (CPI), inflasi produsen (PPI), dan penjualan ritel AS untuk September juga akan menjadi penentu arah pasar. Data LSEG IBES memperkirakan laba perusahaan dalam indeks S&P 500 melonjak 30,6 persen pada kuartal III dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Di tengah ketidakpastian tersebut, investor juga menimbang kemungkinan perubahan kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland, Beth Hammack, menilai bank sentral AS perlu bergerak “relatif cepat” menuju kebijakan moneter yang lebih ketat untuk menekan inflasi yang semakin meluas. Berdasarkan perangkat FedWatch milik CME, pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada bulan ini mencapai hampir 22 persen, naik dari 17,7 persen pada Jumat sebelumnya.