Berita

Drone Seeder. (Foto: Hamilton Native Outpost)

Tekno

Drone Seeder Solusi Reklamasi Lahan Pascatambang, SOP Masih Digodok

SELASA, 13 OKTOBER 2026 | 06:56 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Teknologi drone memang canggih. Namun di lahan pascatambang, kecanggihan itu tidak cukup. Tanpa regulasi dan standar operasional prosedur (SOP) yang jelas, inovasi bisa berubah menjadi masalah baru. 

Dari keresahan itulah, IPB University menggelar Focus Group Discussion (FGD) Penyusunan SOP Penerbangan Drone Seeder di Collaboration Room Gedung A Perpustakaan IPB University.

Dalam forum tersebut, Dr Adisti Permatasari Putri Hartoyo, dosen Departemen Silvikultur, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University mengenalkan smart and rapid seeding, yakni teknologi carbon composite seedball berbasis drone untuk akselerasi lahan reklamasi pascatambang. Terobosan tersebut dijalankan bersama mitra PT Solusi Bangun Indonesia dan PT Bentara.


Menurutnya, rehabilitasi lahan pascatambang masih menjadi tantangan besar. Medannya ekstrem, luas, dan menuntut intervensi teknologi. Atas dasar itulah, ia bersama tim peneliti Program Hilirisasi Riset Prioritas melalui skema Ajakan Industri, Sinergi, dan Dorongan Teknologi hadir lewat teknologi tersebut sebagai solusi konkret.

“Teknologi ini dirancang untuk merehabilitasi lahan pascatambang dengan cara menjatuhkan seedball dari udara. Tidak hanya itu, teknologi ini juga bermanfaat dalam meningkatkan efisiensi waktu yang dibutuhkan untuk melakukan rehabilitasi lahan pascatambang,” ujar Dr Adisti selaku ketua tim peneliti dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta, Senin, 12 Oktober 2026.

Tak hanya itu, ia melanjutkan, teknologi ini mampu menekan biaya yang dibutuhkan hingga 51,88–52,22 persen dari metode konvensional.

Satu benang merah yang mencuat dalam diskusi adalah perbedaan karakteristik operasional yang berbeda antara drone seeder dan drone sprayer. 

“SOP penerbangan drone seeder tidak bisa disamaratakan atau sekadar mengadopsi SOP drone spraying yang lazim di pertanian konvensional,” ujar Riza Semaryan Lubis, ST dari Direktorat Navigasi Penerbangan, Kementerian Perhubungan.

Menurutnya, menjatuhkan proyektil seedball memiliki kalkulasi aerodinamika, beban, dan presisi titik jatuh yang sangat berbeda dengan penyemprotan cairan pupuk. Oleh karena itu, kerangka kerja SOP perlu dikunci secara presisi, yakni hanya berlaku untuk penjatuhan seedball di titik koordinat lokasi penelitian, dan didedikasikan khusus untuk unit drone yang digunakan tim.

Hadir dalam FDG perwakilan dari Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (Kemenhub), Direktorat Navigasi Penerbangan (Kemenhub), Direktorat Keselamatan, Keamanan, dan Standardisasi (AirNav Indonesia), serta Direktorat Penataan Spektrum dan Frekuensi Radio (Kementerian Komunikasi dan Digital), Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Kementerian Pertanian, Asosiasi Pilot Drone Indonesia (APDI), PT Solusi Bangun Indonesia, PT Blessed Bentara Agri Indonesia, dan PT Najah Solutions Group.

Tim peneliti IPB University turut hadir antara lain dari PASEC IPB, Advanced Research Laboratory, Pusat Reklamasi Tambang, hingga Lembaga Pengembangan Agromaritim dan Akselerasi Innopreneurship.

Sebagai resolusi, draf SOP dinilai sudah komprehensif dan akan segera disahkan. Bagi Dr Adisti, ini merupakan peletakan batu pertama bagi standardisasi operasi drone seeder di Indonesia. Sebuah bukti empiris bahwa intervensi ekologi, jika didesain dengan presisi teknis dan diikat oleh payung regulasi lintas sektoral yang ketat, mampu menjawab tantangan reklamasi lahan secara rasional, aman, dan terukur.


Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

UPDATE

Bursa Asia Ambruk, Saham Teknologi Berguguran

Selasa, 13 Oktober 2026 | 08:30

Nasdaq Tertekan, Investor Wall Street Waspadai Inflasi AS

Selasa, 13 Oktober 2026 | 08:17

Bidik Pasar Modal, Dua BUMD DKI Konsultasikan Rencana IPO ke OJK

Selasa, 13 Oktober 2026 | 08:06

Delta Tunda Penerbangan ke Arab Saudi Usai Serangan Riyadh hingga 2027

Selasa, 13 Oktober 2026 | 07:46

Logam Mulia Tertekan Dolar Jelang Rilis Inflasi Amerika Serikat

Selasa, 13 Oktober 2026 | 07:29

Pasar Eropa Hijau Didorong Saham Perbankan

Selasa, 13 Oktober 2026 | 07:13

Drone Seeder Solusi Reklamasi Lahan Pascatambang, SOP Masih Digodok

Selasa, 13 Oktober 2026 | 06:56

Republik Konoha dan Krisis Ketiga

Selasa, 13 Oktober 2026 | 06:23

Olahan Sagu Inovasi TEP IPB University Ramaikan Festival Kali Maro IV Merauke

Selasa, 13 Oktober 2026 | 05:57

Ijazah bagi Kekuasaan

Selasa, 13 Oktober 2026 | 05:27

Selengkapnya