Berita

Timnas Malaysia. (Foto: Antara)

Publika

Kasihan Malaysia Tak Ikut Piala Asia AFC 2027

SENIN, 12 OKTOBER 2026 | 15:59 WIB

PASCA FIFA ASEAN Cup, perang komentar antara netizen Indonesia dan Malaysia belum tamat. Dua musuh bebuyutan ini kalau bertemu di media sosial, rasanya seperti pendekar Gunung Wilis berhadapan dengan pendekar Gunung Ledang. Belum bertarung, jurus mulut sudah keluar tujuh turunan!

Ada dendam, rivalitas, gengsi, dan harga diri. Prinsip netizen Indonesia terkenal sakti mandraguna, “Tak masalah kalah dari negara lain, asal jangan dengan Malaysia!”

Sekarang, perang berlanjut ke Piala Asia AFC 2027 di Arab Saudi. Ketika daftar peserta diumumkan, netizen ASEAN mengucek mata, menepuk jidat, lalu meminjam kaca pembesar tetangga.


Indonesia ada. Thailand ada. Vietnam ada. Singapura ada. Jepang ada. Korea Selatan ada. Qatar ada. Bahkan Korea Utara pun ada.

Malaysia? Hilang seperti pendekar yang baru sadar jurus andalannya cuma gerakan pemanasan!

“Harimau Malaya mana?” Pertanyaan itu mengguncang fondasi semesta. Gunung Tahan bergetar. Sungai Pahang mendadak kehilangan arah. Seekor harimau konon menutup muka dengan kedua kaki depannya karena malu namanya dibawa-bawa dalam urusan sepak bola.

Di negeri MBG, kabar ini disambut seperti pengumuman warung kopi menggratiskan Koptagul selama tujuh hari. Grup WA mendidih. Para pendekar keyboard langsung mengenakan ikat kepala merah putih, lalu mengeluarkan jurus pamungkas, meme!

“Harimau Malaya sedang bertapa mencari jurus lolos!”

Kalau komentar netizen dijadikan tenaga listrik, Indonesia mungkin sudah mampu mengekspor energi ke galaksi sebelah.

Yang lebih menyakitkan, Singapura yang sering dijadikan bahan candaan dalam percakapan sepak bola ASEAN justru berhasil lolos. Malaysia harus menyaksikan dari luar gelanggang.

Dalam film silat, adegan seperti ini terjadi ketika murid yang diremehkan mendadak mengalahkan pendekar berjubah emas. Sang pendekar terpelanting, kumisnya berputar, lalu bertanya, “Ilmu apakah itu?” Jawabannya sederhana, hasil pertandingan!

Sebelumnya, jagat ASEAN juga diramaikan berbagai teori konspirasi seputar pertandingan. Profesor Facebook dan doktor WA sibuk menganalisis operan, ekspresi pemain, sampai gerakan wasit. “Jangan-jangan ada main mata!”

Waduh! Kalau semua dugaan dianggap bukti, pengadilan sepak bola harus membangun gedung sebesar Borobudur. Padahal, tuduhan tetaplah tuduhan jika tidak didukung bukti yang dapat diverifikasi.

Ironisnya, ketika para ahli konspirasi sibuk berdebat, Vietnam mengambil tiket. Singapura mengambil tiket. Indonesia mengambil tiket. Thailand mengambil tiket. Malaysia mengambil kalkulator, menghitung peluang sudah keburu lewat!

Pakcik bayangkan bus kontingen melaju menuju Arab Saudi. Indonesia, Thailand, Vietnam, dan Singapura sudah duduk di dalam. Mesin menyala. Sopir menginjak pedal gas. Dari kejauhan, seorang pendekar berteriak, “Tunggu! Harimau Malaya belum naik!”

Sopir menoleh. “Tiketnya mana?” Pendekar terdiam. Angin bertiup. Daun berguguran. Musik kungfu mendadak berhenti. Sebab tiket tidak bisa diganti dengan auman!

Piala Asia 2027 akan menjadi panggung pertarungan sesungguhnya. Jepang membawa reputasi raksasa, Korea Selatan membawa tradisi kuat, Qatar berstatus juara bertahan, sedangkan Indonesia membawa harapan jutaan pendukung.

Malaysia masih bisa bangkit pada kompetisi berikutnya. Sepak bola bukan kitab kutukan. Hari ini gagal, besok masih ada kesempatan. Namun, selama rivalitas Indonesia-Malaysia menyala, bahan ledekan tampaknya bisa diwariskan sampai tujuh keturunan.

Pelajarannya, jangan sibuk mengajari pendekar lain menendang kalau kaki sendiri belum berhasil masuk gelanggang.

Harimau boleh mengaum sampai langit runtuh. Namun, kalau ijazahnya, eh salah, tiketnya tidak ada, penjaga gerbang tetap berkata, “Maaf, Tuan Harimau. Silakan berlatih lagi. Gelanggang sudah ditutup!” Ups

“Bang, bagaimana pun jiran kita itu serumpun. Semoga pakcik di sana ikut mendukung kita nanti.”

“Aamin, semoga bestie kita mendukung Garuda. Duh, jadi ingin seruput kopi lagi di Eight Ounce Coffee Co. di Suria KLCC, wak.”

Rosadi Jamani
Mantan wartawan

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Rencana Insentif MBG Rp1 Triliun Tuai Kritik dari DPR

Kamis, 29 Oktober 2026 | 15:47

Silfester Matutina Diduga Masuk List Saksi Sidang Ijazah Jokowi

Minggu, 25 Oktober 2026 | 04:00

UPDATE

Perempuan Tani HKTI Terapkan Teknologi IoT, Pangkas Penggunaan Pupuk hingga 50 Persen

Minggu, 01 November 2026 | 12:32

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

PTKIN Siapkan Langkah agar Inovasi Mahasiswa Tak Berhenti di Ajang Lomba

Minggu, 01 November 2026 | 11:56

Kloter Pertama Haji 2027 Terbang 11 April, Ini Jadwal Lengkapnya

Minggu, 01 November 2026 | 11:50

Imigrasi Sudah Cegah Ahmad Dedi ke Luar Negeri Atas Permintaan KPK

Minggu, 01 November 2026 | 11:36

Puluhan Orang Diamankan Polisi saat Gerebek Kampung Bahari

Minggu, 01 November 2026 | 11:30

Maroko Sambut Keputusan PBB Akhiri Misi MINURSO di Sahara Barat

Minggu, 01 November 2026 | 11:17

Citra Polri Bisa Rusak Akibat Dua Kejadian Ini

Minggu, 01 November 2026 | 11:05

Ombudsman Ingatkan Polri Jaga Etika dan Hormati HAM saat Penggeledahan

Minggu, 01 November 2026 | 10:48

PPK Ajak Masyarakat Berperan bersama Presiden Prabowo Wujudkan Kedaulatan

Minggu, 01 November 2026 | 10:42

Selengkapnya