“Kerja Masa Depan, Masa Depan Kamu” menjadi ajakan bagi Generasi Z untuk meningkatkan keterampilan, memperkuat karakter, dan berani menjadi pelaku perubahan. AI dan otomatisasi tengah mengubah wajah dunia kerja. Di tengah perubahan itu, satu pertanyaan mendasar mengemuka: “Kerja 2030: Masih Ada Kerja Buat Kita?”
Pertanyaan tersebut menjadi tema utama Taman Asik--Taman Talks yang diselenggarakan DPP Taruna Merah Putih di Taman Cattleya, Jakarta Barat pada Sabtu, 10 Oktober 2026.
Ketua Umum DPP TMP, Pinka Hapsari, mengarahkan panitia agar kegiatan ini menjadi ruang strategis untuk mendorong Generasi Z melakukan upskilling dan reskilling, mengembangkan kreativitas, serta memperkuat karakter dan kemampuan beradaptasi di tengah perubahan teknologi.
“Indonesia berada dalam fase bonus demografi, di mana jumlah penduduk usia produktif jauh lebih besar dibandingkan usia non-produktif. Namun, bonus demografi tidak dengan sendirinya menjadi bonus kesejahteraan. Potensi tersebut hanya dapat diwujudkan apabila generasi muda memperoleh akses terhadap pendidikan berkualitas, keterampilan yang relevan, dan lapangan pekerjaan yang layak,” kata Pinka dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta, Minggu malam, 11 Oktober 2026.
Dalam diskusi tersebut, Wakil Ketua Komis IX DPR RI Charles Honoris menyoroti tantangan yang muncul ketika besarnya angkatan kerja berhadapan dengan perkembangan AI dan otomatisasi.
Teknologi dapat meningkatkan produktivitas dan melahirkan jenis pekerjaan baru, tetapi pada saat yang sama berpotensi menggantikan sejumlah pekerjaan yang selama ini dilakukan manusia.
“Otomatisasi dapat menjadi ancaman. ?Indonesia mengalami bonus demografi, ketika jumlah angkatan kerja besar, tetapi ketersediaan lapangan pekerjaan minim. Kita menghadapi resiko ketidakseimbangan antara jumlah pencari kerja dan ketersediaan lapangan pekerjaan,” tutur Charles.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa perkembangan teknologi tidak sepenuhnya membawa kabar buruk. Mengacu pada Future of Jobs Report 2025 dari World Economic Forum (WEF), Charles menyoroti proyeksi bahwa hingga 2030 akan muncul pekerjaan-pekerjaan baru dalam jumlah besar, sekaligus terjadi pergeseran pekerjaan yang sudah ada.
WEF memperkirakan sekitar 170 juta pekerjaan baru akan tercipta secara global, sementara sekitar 92 juta pekerjaan tergeser, sehingga menghasilkan pertambahan bersih sekitar 78 juta pekerjaan.
“Ke depan kita harus mempersiapkan kebijakan agar generasi muda siap menghadapi tantangan zaman,” tambah Charles.
Sementara itu, perspektif dunia usaha turut memberikan dimensi penting dalam pembahasan ini. Peter Shearer Setiawan selaku CEO Wahyoo Group menyoroti tidak hanya tentang dunia kerja, tetapi mencakup pentingnya memanusiakan manusia. Ia menilai manusia perlu belajar menjadi manusia seutuhnya di tengah era kecerdasan buatan.
“Kita perlu belajar menjadi manusia seutuhnya. Manusia yang mampu bersosialisasi dengan baik, berkomunikasi dengan baik, berperilaku dengan baik, dan menjadi pekerja yang baik. Kemampuan intelektual penting, tetapi harus disertai karakter dan etos kerja,” ujar Peter.
Di sisi lain, Stephanie Octavia selaku Bendahara Umum DPP Taruna Merah Putih menegaskan bahwa mempersiapkan generasi muda tidak dapat berhenti pada pelatihan keterampilan, tetapi diiringi dengan ketersediaan lapangan kerja.
“Mempersiapkan generasi muda tidak hanya meningkatkan keterampilan, tetapi memastikan ketersediaan lapangan pekerjaan yang layak,” ujarnya dalam sesi pembuka kegiatan Taman Asik.
Mewakili Ketua Umum Taruna Merah Putih, Stephanie menyampaikan pesan kepada generasi Z yang baru memasuki dunia kerja. “Generasi Z tidak boleh hanya menjadi penonton ketika masa depan sedang ditulis. Ia harus berani belajar, tekun mengasah keterampilan, dan mampu mengubah tantangan menjadi kesempatan.”
Sedangkan Ady Hendratta kepala kanwil BPJS Ketenagakerjaan DKI Jakarta mengingatkan aspek perlindungan sosial dalam dunia kerja untuk menjamin masa depan.
"Program jaminan sosial ketenagakerjaan adalah membangun jaring pengaman bagi diri sendiri dan keluarga," tandasnya.
Taman sebagai Ruang Sosial Inklusif dan KreatifMangatta Toding Allo selaku ketua panitia kegiatan ini menekankan tentang pentingnya menghidupkan taman sebagai bagian membangun ruang publik yang aktif dan bermanfaat. Salah satu pendekatannya adalah menghadirkan kegiatan pelatihan keterampilan yang dekat dengan kebutuhan masyarakat.
“Tugas utama kita adalah menghidupkan taman seperti arahan Bapak Gubernur. Salah satu caranya adalah menghadirkan kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat, termasuk pelatihan membuat kopi, digital marketing, dan keterampilan mekanik,” jelasnya.
Hal senada diucapkan oleh Kepala Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol), Abdul Khalit. Ia menjelaskan bahwa taman adalah ruang sosial yang terbuka, inklusif, dan kreatif bagi masyarakat.
“Taman Asik adalah semangat menjadikan taman sebagai area sosial yang inklusif dan kreatif. Taman berperan dalam mendukung kualitas lingkungan, membantu pengendalian limpasan air hujan, serta menjadi ruang hijau yang penting bagi kehidupan kota,” tuturnya.
Melalui Kegiatan Taman Talks, Taruna Merah Putih mengajak generasi muda untuk memandang masa depan dengan kesiapan, daya kritis, dan keberanian untuk mengambil bagian dalam perubahan. Acara ini melibatkan Dinas PPKUKM Provinsi DKI Jakarta dengan bazaar UMKM dan berbagai pelatihan untuk orang muda dengan menggandeng PPKD Dinas Tenaga Kerja Jakarta Barat.