Gubernur BI Destry Damayanti. (Foto: RMOL/Alifia Dwi)
Bank Indonesia (BI) mengungkap tingginya animo masyarakat untuk menjadi bagian dari bank sentral. Dalam rekrutmen tahun ini, sekitar 160 ribu orang tercatat ikut dalam proses rekrutmen BI.
Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan, tingginya jumlah pelamar tahun ini belum sepenuhnya menjawab kebutuhan BI terhadap sumber daya manusia (SDM) dengan kompetensi teknologi.
Pasalnya, mayoritas pelamar masih berasal dari latar belakang ekonomi dan manajemen. Sementara BI saat ini membutuhkan lebih banyak talenta dengan kemampuan teknologi, terutama data science, kecerdasan buatan (AI), dan analitik data.
"Kalau rekrutmen tahun ini 160 ribu yang masuk, kami ambil di bawah 150 orang. Kebanyakan yang daftar background-nya ekonomi, manajemen, tapi cari yang teknologi terbatas," kata Destry dalam acara FEKDI x IFSE 2026 di Jakarta, Jumat, 25 September 2026.
Menurut Destry, kondisi tersebut mencerminkan adanya kesenjangan antara kebutuhan industri terhadap talenta teknologi dengan ketersediaan SDM yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan.
Kebutuhan tersebut semakin besar seiring pesatnya perkembangan teknologi dan pemanfaatan AI. BI, kata Destry, membutuhkan kemampuan data science dan analitik untuk mendukung berbagai pekerjaan di lingkungan bank sentral.
Destry menilai kesenjangan talenta teknologi perlu diatasi sejak dari dunia pendidikan. Struktur pendidikan nasional dinilai perlu beradaptasi dengan perubahan kebutuhan industri, salah satunya dengan mendorong minat generasi muda terhadap bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM).
"Tadi Pak Menteri Brian (Mendikdasmen) menyampaikan minat relatif berkurang masuk ke ilmu STEM itu akan memperlebar gap demand talenta teknologi tinggi dengan supply-nya," tuturnya.
Atas kondisi itu, BI mulai memberikan porsi lebih besar bagi calon pegawai dengan latar belakang ilmu pengetahuan alam (IPA) dan bidang terkait teknologi dalam proses rekrutmen.
"Di BI sekarang dalam rekrutmen prioritaskan kursi latar belakang IPA lebih besar karena faktanya untuk teknologi. Data science kita butuh kemampuan membaca AI dan data analytical yang besar," jelas Destry.
Di sisi lain, Indonesia dinilai memiliki modal demografi yang cukup besar untuk mempercepat transformasi digital. Sekitar 69 persen penduduk Indonesia berada dalam usia produktif.
Namun, besarnya populasi usia produktif tersebut belum otomatis menjamin ketersediaan talenta digital. Destry menyoroti pemanfaatan teknologi oleh masyarakat yang masih perlu ditingkatkan.
Menurut dia, hampir setiap anak muda saat ini telah memiliki telepon seluler, bahkan satu orang bisa mempunyai lebih dari satu perangkat. Persoalannya, perangkat tersebut belum sepenuhnya dimanfaatkan untuk kegiatan produktif.
"Anak muda pasti memiliki HP dan satu orang bisa 2-3 punya handphone, tapi pemanfaatannya masih minim," kata Destry.
Karena itu, peningkatan literasi dan kapasitas teknologi dinilai menjadi penting agar masyarakat tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga mampu menghasilkan inovasi berbasis teknologi.
BI pun terus memperkuat kapasitas SDM internal. Destry menyebut sekitar 330 pegawai BI saat ini tengah mengikuti pendidikan untuk meningkatkan kemampuan digital.
"Kami meningkatkan cap building anak anak muda kami ada 330 sedang melakukan pendidikan meningkatkan talenta digital. Kemarin dari 800 di groom oleh BI menjadi talenta," tambahnya.
Pengembangan tersebut, kata Destry, harus dilakukan secara berkelanjutan mengingat perubahan teknologi berlangsung sangat cepat.
"BI tidak bisa sendiri. Kami meningkatkan capacity building anak-anak muda kami. Tugas kami memang dalam PIDI untuk upscaling dan reskilling digital dan ini mendesak karena inovasi berubah dengan cepat," pungkasnya.