Berita

Ilustrasi (RMOL via Gemini AI)

Bisnis

Dolar AS Berfluktuasi Ditopang Ketidakpastian Minyak

RABU, 23 SEPTEMBER 2026 | 07:23 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Dolar AS di pasar mata uang New York bergerak fluktuatif setelah sempat menyentuh level tertinggi dalam dua bulan sebelum akhirnya ditutup menguat tipis. 

Pergerakan greenback dibayangi oleh volatilitas harga minyak dunia serta kekhawatiran inflasi yang memicu spekulasi kenaikan suku bunga lanjutan oleh bank sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve).

Menilik laporan Reuters, pada Rabu pagi 23 September 2026, indeks Dolar (Indeks DXY) tercatat naik 0,17 persen ke level 100,59, setelah sempat melesat hingga 0,29 persen ke posisi 100,70, level tertinggi sejak 30 Juli. 


Di sisi lain, mata uang utama dunia mengalami tekanan; Euro melemah 0,18 persen ke posisi 1,1441 Dolar AS, dan Poundsterling merosot 0,23 persen ke level 1,3332 Dolar AS.

Terhadap Yen Jepang, Dolar AS menguat 0,03 persen menjadi 157,41 yen dan berada di jalur kenaikan untuk hari ketiga berturut-turut.

Fluktuasi pasar dipicu oleh perkembangan konflik di Timur Tengah serta pernyataan Presiden AS Donald Trump di Sidang Umum PBB. Pasar sempat diwarnai optimisme menyusul kabar bahwa Iran menawarkan pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari apabila AS mengurangi tekanan militer. Namun, sentimen kembali berubah setelah Trump memperkirakan kesepakatan komprehensif baru akan tercapai usai pemilu paruh waktu AS pada November mendatang.

Kondisi tersebut menjaga harga minyak mentah Brent di sekitar kisaran 100 Dolar AS per barel, yang memperkuat risiko tekanan inflasi berkepanjangan. Sejumlah pejabat The Fed, termasuk Presiden Fed Boston Susan Collins dan Presiden Fed Richmond Tom Barkin, mengisyaratkan keterbukaan terhadap kenaikan suku bunga lanjutan demi meredam inflasi agar kembali ke target 2 persen.

Berdasarkan data FedWatch Tool CME Group, pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan Oktober mendatang sebesar 55,4 persen, turun tipis dari 57,6 persen pada sesi sebelumnya.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

Wall Street Variatif, Nasdaq Naik Ditopang Saham AI

Rabu, 23 September 2026 | 08:21

Kejagung Garap Lima Saksi di Kasus Korupsi MBG, Ada Pegawai SPPG Karawang

Rabu, 23 September 2026 | 08:06

Emas Gagal Bersinar, Tertekan Ekspektasi Suku Bunga Ketat dan Penguatan Dolar AS

Rabu, 23 September 2026 | 07:41

Dolar AS Berfluktuasi Ditopang Ketidakpastian Minyak

Rabu, 23 September 2026 | 07:23

Bursa Eropa Beragam: Dorongan Sektor Teknologi Imbangi Tekanan Sektor Keuangan

Rabu, 23 September 2026 | 07:07

Ruang Amal Indonesia-IFG Life-Kemenko PM Hadirkan Program bagi Ojol Tunarungu

Rabu, 23 September 2026 | 06:40

Sering Kebakaran, Gedung Wajib Miliki Alat Deteksi Dini

Rabu, 23 September 2026 | 06:28

MUI Minta Pelaku Usaha Bersiap Hadapi Wajib Halal 18 Oktober

Rabu, 23 September 2026 | 06:18

Kursi Gibran Goyang

Rabu, 23 September 2026 | 06:03

Dua Jemaah Haji Indonesia Masih Dirawat di RS Arab Saudi

Rabu, 23 September 2026 | 05:45

Selengkapnya