Berita

Mendiang Presiden Haiti Jovenel Moise (Tangkapan layar RMOL dari siaran YouTube PBS News Hour)

Global

5 Tahun Berlalu, 18 Tersangka Pembunuhan Presiden Haiti Diekstradisi ke AS

SENIN, 21 SEPTEMBER 2026 | 12:17 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Lima tahun setelah Presiden Haiti Jovenel Moise tewas ditembak di kediamannya, kasus pembunuhan tersebut kembali bergulir. 

Informasi terbaru, sebanyak 18 tersangka telah diekstradisi dari Haiti ke Amerika Serikat (AS) untuk menjalani proses hukum terkait dugaan keterlibatan mereka dalam pembunuhan itu.

Moise tewas ditembak di kamar tidurnya di ibu kota Port-au-Prince pada Juli 2021. Ia diduga dibunuh oleh kelompok tentara bayaran yang sebagian besar merupakan mantan tentara asal Kolombia.


Penyelidikan kasus tersebut di Haiti sebelumnya terhambat karena negara itu dilanda kekerasan geng, lemahnya penegakan hukum, serta semakin luasnya wilayah yang berada di bawah kendali kelompok bersenjata. Kondisi tersebut membuat proses hukum terhadap para tersangka sulit dilanjutkan di dalam negeri.

Jaksa Agung AS untuk Distrik Selatan Florida, Jason Reding Quinones, mengatakan ekstradisi 18 tersangka merupakan langkah penting untuk membawa seluruh pihak yang terlibat ke pengadilan.

"Ini merupakan fase utama selanjutnya dalam upaya kami untuk menegakkan akuntabilitas" atas pembunuhan presiden, kata Quinones dalam unggahan di X, dikutip Senin, 21 September 2026.

"Lima tahun kemudian, kami masih membawa para terdakwa ke hadapan pengadilan Amerika, dan kami belum selesai," lanjutnya. Menurut dia, sejauh ini 30 orang telah didakwa terkait pembunuhan Moise.

Delapan belas orang yang diekstradisi pada Minggu terdiri dari 17 mantan tentara Kolombia dan Joseph Badio, seorang mantan pejabat senior Pemerintah Haiti yang pernah bekerja di unit antikorupsi Kementerian Kehakiman Haiti. Jaksa AS menduga perencanaan dan pendanaan pembunuhan tersebut dilakukan dari Miami, Florida, serta melibatkan pihak di Republik Dominika dan Haiti.

Sebuah perusahaan keamanan yang berbasis di Miami juga dituduh berperan dalam merekrut para mantan tentara Kolombia tersebut. Agen khusus FBI Brett Skiles mengatakan penangkapan para tersangka di berbagai lokasi, termasuk di luar AS, menunjukkan komitmen FBI untuk membawa seluruh pihak yang terlibat ke pengadilan.

"Penangkapan di berbagai lokasi dan internasional hari ini menggarisbawahi komitmen berkelanjutan FBI untuk membawa semua peserta dalam konspirasi ini ke pengadilan," kata Skiles di X.

Sebagian tersangka lain tewas ditembak polisi setelah pembunuhan Moise. Sementara itu, empat orang telah dinyatakan bersalah oleh pengadilan di Miami pada Mei lalu karena terlibat dalam konspirasi tersebut. Mereka menghadapi kemungkinan hukuman penjara seumur hidup atas dakwaan, antara lain, berkonspirasi untuk membunuh atau menculik Moise serta memberikan dukungan material untuk pembunuhan tersebut.

Para mantan tentara Kolombia yang didakwa mengatakan mereka direkrut sebagai tentara bayaran dan diyakinkan bahwa misi mereka adalah membantu melakukan kudeta. Mereka mengklaim tidak mengetahui bahwa rencana tersebut bertujuan membunuh Moise.

Pembunuhan Moise menjadi salah satu titik balik dalam krisis keamanan Haiti. Sejak saat itu, negara Karibia tersebut terus dilanda kekerasan geng. Kantor Integrasi PBB di Haiti mencatat sedikitnya 1.408 orang tewas dan 656 lainnya terluka sepanjang April hingga Juni 2026.

Di tengah situasi keamanan yang belum stabil, Haiti kini bersiap menggelar pemilihan presiden dan legislatif pada 13 Desember 2026. Pemilu tersebut akan menjadi pemilu presiden dan legislatif pertama di Haiti sejak 2016, dengan pelaksanaannya tetap bergantung pada kondisi keamanan di negara tersebut.


Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

Rencana Insentif MBG Rp1 Triliun Tuai Kritik dari DPR

Kamis, 29 Oktober 2026 | 15:47

Silfester Matutina Diduga Masuk List Saksi Sidang Ijazah Jokowi

Minggu, 25 Oktober 2026 | 04:00

UPDATE

IPW Desak Transparansi Penegakan Hukum Kasus 1.048 Ton Udang Impor di Jatim

Minggu, 01 November 2026 | 01:50

Langkah Polisi Tangani Kasus Perusakan Warung Mi Babi Sukoharjo Diapresiasi Warga

Minggu, 01 November 2026 | 01:24

Polda Metro Siap Dikritik Buntut Penyelenggaraan Deklarasi Sumpah Pemuda 29 Oktober

Minggu, 01 November 2026 | 00:43

Ramai Logo Muncul di TIME100 Next Gala, Danantara Bantah Bayar Dana Sponsorship

Minggu, 01 November 2026 | 00:16

Pengurus Baru SAPMA PP DKI Jakarta Siap Berkolaborasi dengan Pemprov

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 23:47

Polisi Tangkap Pelaku Penembakan di Kampung Ambon, Ini Motifnya

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 23:17

Winda Marfita Pastikan Tak Terlibat Kasus Investasi PT MBS yang Dilaporkan Nur Istianti

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 22:57

Asrul Haruna Terpilih Sebagai Koorpresnas BEM PTMA Indonesia

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 22:43

Rembuk Pemuda Himpun Aspirasi dari 29 Provinsi, Kukuhkan DPP Pertama

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 22:32

PPP Maluku Tolak Pemberhentian Agus Suparmanto-Taj Yasin

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 21:44

Selengkapnya