Berita

Presiden Prabowo Subianto menyinggung keinginan menggratiskan sekolah hingga ke jenjang perguruan tinggi saat berpidato di hajatan ulang tahun PAN. (Foto: Dok. PAN)

Politik

Ekonom Ungkap Skema Pendidikan Gratis PTN Tanpa Menguras APBN

MINGGU, 20 SEPTEMBER 2026 | 09:43 WIB | LAPORAN: DIKI TRIANTO

Rencana menggratiskan pendidikan di perguruan tinggi negeri (PTN) sebagaimana arahan Presiden Prabowo Subianto bisa dimulai dengan menata ulang alokasi anggaran pendidikan yang mencapai ratusan triliun Rupiah.

Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Prof Didik J Rachbini mengatakan, pemerintah tidak harus mencari sumber anggaran baru jika desain pembiayaan pendidikan nasional ditata ulang.

"Pemikiran presiden tidak masuk akal? Tidak. Menterinya saja yang harus sigap, serius dan cerdas menerjemahkan semangat pendidikan gratis dari SD sampai perguruan tinggi negeri," kata Didik dalam keterangan tertulis kepada redaksi, Minggu, 20 September 2026.


Didik menyoroti anggaran pendidikan 2026 mencapai Rp769,1 triliun. Angka ini alokasi 20 persen dari belanja negara dan disalurkan melalui belanja pemerintah pusat, transfer ke daerah, serta pembiayaan.

Rektor Universitas Paramadina ini mengurai, sebagian anggaran perlu diarahkan lebih tajam untuk memastikan akses pendidikan gratis pada jenjang pendidikan negeri.

"Dengan adanya semangat dan arahan presiden tersebut tidak membuat bingung Menkeu, Mendikdasmen, dan Mendiktisaintek. Justru ini menjadi kesempatan agar anggaran tersebut kembali ke ranahnya," ujarnya.

Untuk pendidikan tinggi, Didik mengusulkan pembagian sumber pembiayaan antara negara dan masyarakat. PTN menjadi bagian yang lebih kuat dibiayai APBN, sedangkan perguruan tinggi swasta (PTS) tetap berkembang dengan pembiayaan masyarakat.

Dalam pelaksanannya, mahasiswa dari keluarga tidak mampu bisa diprioritaskan masuk PTN berdasarkan kemampuan akademik dan prinsip meritokrasi. Sementara mahasiswa yang memiliki kemampuan ekonomi bisa memilih PTS sebagai alternatif pendidikan tinggi.

"Dengan demikian, pembiayaan pendidikan tinggi bisa berbagi antara PTN dan PTS," katanya.

Didik juga berharap PTN perlu dikelola secara lebih efisien. Penerimaan mahasiswa harus disesuaikan dengan kapasitas kampus, kebutuhan tenaga pendidik serta kemampuan pembiayaan.

Ia memperkirakan PTN utama dapat memperoleh dana operasional sekitar Rp500 miliar hingga Rp1 triliun. Sementara PTN berukuran lebih kecil dapat memperoleh sekitar Rp200 miliar hingga Rp500 miliar. Skema ini bisa berjalan apabila pemerintah melakukan efisiensi dan right sizing PTN.

Di sisi lain, PTS dengan kapasitas sekitar 6.000 hingga 12.000 mahasiswa dinilai dapat beroperasi dengan anggaran sekitar Rp100 miliar sampai Rp200 miliar.

Pemerintah sendiri telah mengalokasikan anggaran pendidikan Rp769,1 triliun dalam APBN 2026. Alokasi tersebut mencakup sejumlah program seperti PIP, KIP Kuliah, BOS, bantuan operasional perguruan tinggi, beasiswa serta dukungan bagi guru dan dosen.

Karena itu tantangan utama bukan semata mencari tambahan anggaran. Persoalannya adalah bagaimana mengubah struktur belanja pendidikan agar lebih langsung menjawab kebutuhan akses dan pembiayaan peserta didik.

"Semangat presiden yang berapi-api seperti itu justru kesempatan baik dunia pendidikan untuk mencerdaskan bangsa sebagaimana cita-cita konstitusi," tutupnya.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Pergantian Kapolri untuk Antisipasi Putusan MK soal Gibran

Kamis, 01 Oktober 2026 | 18:19

UPDATE

Trump Tunjuk Katie Zacharia Jadi Sekretaris Pers Gedung Putih

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 10:27

Saat Outing Kantor Bergeser Jadi Strategi Korporat

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 10:09

Harga Emas Meroket di Akhir Pekan Jadi Semahal Ini

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:57

FORU Anjlok 11,39 Persen, Transaksi Tembus Rp253 Miliar saat IHSG Rebound

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:44

Komisi V DPR Wanti-wanti Tiga Kementerian Jangan Saling Lempar Tanggung Jawab Soal Ojol

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:30

Harga Logam Dunia Bangkit Usai Aksi Borong di Level Rendah

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:01

Tiga Anggota OPM Meninggal Dunia Usai Kontak Tembak di Maybrat

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:46

Teguh Santosa: Pepera 1969 Sejalan dengan Prinsip Self Determination

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:31

Kapolri Pimpin Sertijab di Mabes Polri, Komjen Asep Resmi Jadi Irwasum

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:17

Wall Street Tutup Pekan Kedua di Zona Hijau

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:05

Selengkapnya