Berita

Ilustrasi

Politik

Sektor Pariwisata RI Stagnan, Indonesia Kalah Cepat dari Vietnam

SABTU, 19 SEPTEMBER 2026 | 22:34 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Kontribusi sektor pariwisata terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia masih stagnan di bawah 5 persen selama delapan tahun terakhir.

Pengamat pariwisata sekaligus Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Pariwisata Indonesia (ICPI), Azril Azhari menilai Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana belum menunjukkan arah pengelolaan sektor pariwisata secara optimal.

Menurutnya, pemerintah tidak seharusnya hanya berfokus pada peningkatan jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga perlu memperhatikan lama tinggal, besaran belanja wisatawan, hingga kontribusi ekonomi sektor pariwisata terhadap PDB.


"Kalau menurut saya sekarang itu sedang terjadi autopilot. Tanpa ada Menteri Pariwisata juga akan terjadi kenaikan wisatawan. Nah, yang diukur itu jumlah wisatawan. Itu kan salah," kata Azril kepada RMOL pada Sabtu, 19 September 2026.

Ia menegaskan, indikator keberhasilan pariwisata semestinya tidak berhenti pada jumlah wisatawan yang berkunjung ke Indonesia.

"Harusnya bukan jumlah wisatawan. Harusnya length of stay-nya, lama tinggal. Kemudian jumlah spending of money-nya. Kemudian berapa persen sharing kontribusi sektor pariwisata terhadap PDB," tegasnya.

Azril juga meminta pemerintah membandingkan kinerja pariwisata Indonesia dengan negara-negara lain di kawasan ASEAN, termasuk Vietnam yang menempati tiga tertinggi dari sebelumnya di 5-6 besar. 

Menurutnya, Vietnam mengalami perkembangan pesat dalam persaingan pariwisata regional, sementara Indonesia perlu mengevaluasi strategi pengembangan sektor tersebut.

"Indonesia nomer 5 jadi Indonesia kalah disalip Vietnam. Kalau mau memberikan data, bandingkan data tersebut dengan negara tetangga, jumlah wisatawannya gimana. Vietnam hampir dua kali lipat dari kita, mereka begitu cepat," ujarnya.

Azril menilai, kontribusi pariwisata terhadap PDB yang masih di bawah 5 persen menunjukkan bahwa sektor tersebut belum mencapai tingkat kontribusi yang menurutnya dapat dikategorikan sebagai sektor unggulan.

Ia menyebut angka kontribusi pariwisata Indonesia masih berkisar 4,8 hingga 4,9 persen, bergantung pada perhitungan yang digunakan.

"Sektor pariwisata masih di bawah 5 persen kontribusinya terhadap PDB. Kalau dia di atas 15 persen barulah kita menjadi unggulan, ini belum pernah," katanya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kontribusi sektor pariwisata terhadap PDB Indonesia tercatat sebesar 4,91 persen pada 2018 dan meningkat menjadi 4,97 persen pada 2019.

Namun, pandemi Covid-19 menyebabkan kontribusi tersebut turun menjadi 2,23 persen pada 2020 dan 2,30 persen pada 2021.

Setelah itu, kontribusi pariwisata berangsur pulih menjadi 3,72 persen pada 2022 dan 4,67 persen pada 2023. Pada 2024, kontribusi sektor pariwisata tercatat sebesar 4,78 persen dan bertahan pada level yang sama pada 2025.

BPS juga mencatat nilai kontribusi sektor pariwisata terhadap PDB pada 2025 mencapai Rp1.138,90 triliun. Sementara itu, dari sisi permintaan, total konsumsi pariwisata internal mencapai Rp2.408,97 triliun. 

Angka tersebut terdiri dari pengeluaran wisatawan nusantara sebesar Rp2.090,31 triliun dan pengeluaran wisatawan mancanegara atau inbound sebesar Rp318,66 triliun.

Azril mempertanyakan mengapa kontribusi sektor pariwisata terhadap perekonomian nasional belum menunjukkan peningkatan yang signifikan, meskipun pemerintah kerap menyoroti pertumbuhan jumlah wisatawan.

"Kok bisa terjadi demikian? Ini kan kedunguannya kalau menurut Rocky Gerung itu dungu. Dunguannya, Menteri dong. Menteri itu kan pilot. Jadi kita autopilot. Jadi (dia) tidak paham," tandasnya.

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Silfester Matutina Diduga Masuk List Saksi Sidang Ijazah Jokowi

Minggu, 25 Oktober 2026 | 04:00

Ketua KPK Bakal Babak Belur Gara-gara Nusron

Senin, 26 Oktober 2026 | 13:02

Hak Angket Ijazah Gibran Sudah Masuk Angin

Senin, 26 Oktober 2026 | 10:04

UPDATE

Korporasi Biang Kerok Karhutla Harus Dihukum Maksimal

Jumat, 30 Oktober 2026 | 10:32

Partisipasi Industri Lokal Menguat, 101 Calon Mitra PSEL Denera Lolos Seleksi

Jumat, 30 Oktober 2026 | 10:31

IHSG Rontok 1,29 Persen, Rupiah Cerah ke Rp18.112 per Dolar AS

Jumat, 30 Oktober 2026 | 09:27

Bahlil Curiga Singapura Jual Lagi Pasokan Gas RI ke Luar Negeri

Jumat, 30 Oktober 2026 | 09:12

Harga Emas Antam Turun Lagi, Beli Sekarang?

Jumat, 30 Oktober 2026 | 09:01

Andrea Bocelli Harus Cabut Dukungan ke Israel jika Ingin Konser di Indonesia

Jumat, 30 Oktober 2026 | 08:43

Pemerintah Jangan Tutup Mata atas Nasib PMI di Malaysia

Jumat, 30 Oktober 2026 | 08:25

Indonesia dan Singapura Harus Kompak Bongkar Jejak Korporasi Karhutla

Jumat, 30 Oktober 2026 | 08:14

Kopdes Jangan Malah Jadi Pesaing UMKM

Jumat, 30 Oktober 2026 | 08:05

Jakarta Tak Kalah dari Singapura Gelar Konser Dunia

Jumat, 30 Oktober 2026 | 07:40

Selengkapnya